Unik, Informatif , Inspiratif

Lafran Pane, Pahlawan Sederhana yang Tak Punya Rumah

0 54

Lafran Pane, sosok pahlawan nasional yang gelarnya baru dikukuhkan pada 9 September 2017 lalu. Ia terkenal sebagai tokoh yang sederhana.

Saat itu, nama besarnya diwakili oleh ahli waris bersama empat tokoh lain diundang ke Istana Merdeka, Jakarta.

Hariqo Wibawa Satria, penulis buku “Lafran Pane: Jejak Hayat dan Pemikirannya” mengisahkan sosok sederhana yang tak punya rumah itu.

BACA JUGA: Deputi Amir dan Para Pahlawan Baru 2018

Dilansir dari Kompas.com, Hariqo mengaku pernah mendatangi rumah Lafran Pane di Jalan Affandi di Yogyakarta.

“Waktu itu saya pernah ke rumahnya di kompleks dosen Jalan Affandi di Yogyakarta itu. Saya tanya kepada istrinya ini rumah Pak Lafran? Bukan kata dia, ini dari kampus,” ujarnya.

Hariqo juga menuturkan, pihak keluarga Lafran juga sempat menyampaikan harus segara pindah lantaran pihak kampus memberikan peringatan bahwa rumah itu akan ada yang menempati.

Dilansir dari Wikipedia, Lafran Pane lahir di Padang Sidempuan, Sumatera Utara pada 5 Februari 1922 dan wafat pada 24 Januari 1991. Ia lahir dari sosok ayah seorang guru dan seniman Batak Mandailing Natal.

Ayahnya Sutan Pangurabaan Pane merupakan sosok pendiri Muhammadiyah di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tahun 1921.

Kakaknya Sanusi Pane dan Armijn Pane adalah sosok sastrawan dan seniman. Masa sekolahnya dimulai dari Pesantren Muhammadiyah Sipirok dan melanjutkan sekolahnya ke Jakarta.

BACA JUGA: Empat Tokoh Telah Digelari Pahlawan Nasional

Pada saat ibu kota pindah ke Yogyakarta, dan tempatnya bersekolah yang bernama Sekolah Tinggi Islam ikut pindah inilah awal mula karir Lafran mulai berkembang.

Dia melanjutkan pendidikan ke Universitas Gajah Mada, dan menjadi salah satu sarjana ilmu politik pertama di Indonesia.

Dia sempat bekerja di Kementrian Luar Negeri dan lebih memilih keluar dan dia tertarik bekerja di dunia pendidikan dan masuk ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam karier akademisinya, Lafran Pane menjadi Dosen Di UGM, UNY, dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia adalah salah satu sarjana jurusan politik pertama di Indonesia.

Meski begitu, Lafran tak pernah berkecimpung dalam dunia politik praktis. “Lafran Pane hingga akhir hayatnya adalah dosen, tidak pernah jadi anggota partai politik mana pun,” ungkap Hariqo.

BACA JUGA: Presiden Setujui Pendiri HMI Jadi Pahlawan Nasional

Sebagai orang yang jengah dengan keadaan Indonesia dan agama Islam yang ada di dalamnya, Lafran mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam pada 15 Februari 1947, bertujuan awal untuk mempertahankan NKRI pasca kemerdekaan sekaligus mengembangkan ajaran Islam.

Sosok Lafran dikenal menjadi tokoh yang sederhana dan mededikasikan hidupnya untuk perkembangan pendidikan Indonesia. []

SUMBER: TRIBUN | KOMPAS | WIKIPEDIA

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline