Foto: Reservasi Travel

London VS Jakarta: Catatan Kehidupan Muslim di Lain Benua

Foto: Reservasi Travel

Oleh: Dewi Nur Aisyah

INSPIRADATA. Hidup di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, tentu bukan sebuah kesulitan untuk menjalani ibadah sebagaimana mestinya. Segala fasilitas ibadah dan makanan halal, melimpah ruah hampir di seluruh penjuru.

Lalu, bagaimana jika hidup di negara yang Muslim menjadi minoritas?

Seperti catatan Muslimah yang satu ini. Dewi Nur Aisyah, Seorang warga negara Indonesia yang tinggal di London, Inggris. Ia menceritakan bagaimana perbedaan menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim di Indonesia dengan di Inggris.

Berikut beberapa catatan Dewi di Inggris, tentang catatan kehidupan Muslim di lain  benua.

Pertama, cuaca yang berbeda. Kalau di Indonesia suhu 20 derajat Celcius berasa adem (cenderung dingin). Jika di Inggris, suhu 20 derajat Celcius itu peristiwa langka. Jadi, perlu disyukuri kehadirannya. Mengapa? Karena matahari itu adalah sesuatu yang diam-diam dirindukan oleh semua orang di Inggris.

Jika matahari itu muncul, semua orang akan mengenakan pakaian tipis untuk berjemur di taman-taman. Namun sebaiknya, para muslim menghindari area taman terbuka, karena penuh dijejali orang-orang yang minim berbusana.

Kedua, Bila di Indonesia ramai membicarakan ojek online yang memudahkan transportasi. Di London kami lebih senang berjalan kaki. Selain irit ongkos, di London saya lebih diajarkan untuk menjaga kesehatan.

Selain itu supervisor saya pun lebih memilih naik tangga ke lantai 4 dibandingkan harus naik elevator, lebih sehat katanya!

“If you want to keep your body healthy, do not lazy to climb the stairs and walk at least 30 minutes every day”.

Ketiga, tentang puasa. Durasi puasa di Indonesia jauh lebih singkat dibandingkan di Inggris. Kami biasa sahur jam 2 malam, dan berbuka puasa sekitar pukul 9.30 malam.

Kurang lebih, Muslim di London berpuasa sekitar 19 jam, di musim panas. Walau demikian, ada hikmah lain yang bisa di dapatkan di sini. Ialah jika di Indonesia berbuka puasa kita bisa puas makan apa saja yang kita inginkan, di Inggris kami memaklumi kalaupun hanya berbuka dengan 3 butir kurma. Tidak ada gorengan, es campur, cendil, bubur sumsum apalagi martabak. Sehingga kami bisa lebih menahan diri.

Keempat, tentang pakaian untuk shalat. Muslim di Indonesia terbiasa mengenakan mukena. Tapi di sini, tidak ada yang mengenakan mukena kecuali Muslimah Indonesia dan Malaysia.

Tidak mengenakan mukena saat sholat di Indonesia, mungkin akan terlighat aneh. Tapi di London, semuanya biasa saja. Sehingga keberagaman itu lebih terasa. Muslimah Afrika mengenakan hijab lebarnya, Muslimah Arab atau Mesir dengan jilbab lilitnya, atau Muslimah Indonesia dengan jilbab segi empatnya.

Kelima, Saat sholat Iedul Fitri atau Iedul Adha. Di Indonesia, saat pelakasanaan hari raya umat Islam ini dilaksanakan serentak, namun berbeda dengan di sini. Di Inggris, ada beberapa kloter yang bisa menjadi pilihan. Begitupun dengan shalat jum’at berjama’ah di masjid-masjid besar.

Dibagi menjadi beberapa kloter karena sedikitnya masjid dan banyak orang yang ingin shalat berjama’ah. Yang pasti, momen ini membawa rasa haru tersendiri, saat menyadari bahwa kami tidak sendiri. Banyak saudara/i seiman pun yang tengah menjalani, kehidupan sebagai muslim yang jauh dari negeri sendiri.

Keenam, kotak infaq. Kotak infak di sini dengan gesekan kartu ATM. walau kadang ada juga kotak untuk infaq). Nanti akan ada panitia yang bawa-bawa debit/credit card swipe machine saat sholat Jum’at. Dan yang lebih lagi, uang infaq yang diberikan bukan receh 5, 10 atau 20 pound (100-400 ribu rupiah), tapi ini sampai lebih dari 250 pound (setara dengan 5 juta ke atas).


Artikel Terkait :

About Tia Apriati Wahyuni

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *