Lupa Tujuan Awal
Ilustrasi: (c) Okezone

Lupa Tujuan Awal

Lupa Tujuan Awal
Ilustrasi: (c) Okezone

INSPIRADATA. Alkisah di sebuah negeri, ada seorang pemuda desa yang ingin mengadu nasib ke kota.

Di desanya, ia dikenal sebagai pemuda yang ambisius. Begitu banyak impian dan cita-cita yang diceritakannya pada orang-orang.

Suatu kali, ia mendengar bahwa di kota ada lowongan untuk menjadi abdi kerajaan. Ia berpikir, itulah kesempatannya untuk mewujudkan impian menjadi orang sukses dan terpandang.

Maka, ia pun bergegas pergi ke kota kerajaan. Peserta begitu banyak dan seleksi berlangsung sangat ketat. Si pemuda pun berusaha sangat keras demi hasil yang terbaik.

Hingga akhirnya pada tahap terakhir, tinggal dua orang pemuda yang tersisa. Salah satunya, pemuda desa ini.

Sang Raja mengatakan kepada kedua kandidat, bahwa sebenarnya mereka sudah hampir diterima sebagai abdi kerajaan. Namun ia punya tawaran menarik.

“Apakah kalian berdua ingin melalui ujian berat sekali lagi? Pemenangnya akan menjadi pendamping pangeran kerajaan.”

Pemuda desa dengan cepat menjawab bahwa dialah yang pantas untuk menjadi pendamping Sang Pangeran. Ujian seberat apapun pasti akan dilaluinya, demi cita-citanya yang besar.

Sementara itu, pemuda satunya mengatakan bahwa ia tetap memilih pekerjaan sebagai abdi kerajaan, sesuai dengan tujuannya saat kali pertama mengikuti ujian tersebut.

Mendengar itu, si pemuda desa malah mengatakan hal yang kurang menyenangkan. Ia menegaskan, bahwa hanya dirinyalah yang pantas jadi pendamping sang pangeran, dan pemuda satunya cukup jadi abdi kerajaan yang biasa-biasa saja.

Ia bahkan berani menantang lawannya, kalau bisa mengalahkannya, maka ia akan mengerjakan apa saja yang diminta si pemuda. Ambisi dan sikap sombong, telah membuatnya lupa pada tujuan awal mengikuti ujian.

Mendengar itu, Sang Raja pun segera membuat keputusan. “Kalian berdua adalah orang terbaik di negeri ini yang sudah berhasil melewati seleksi sangat ketat. Tapi sekarang, aku sudah tahu, mana yang akan kupilih.”

Ia menatap si pemuda desa. “Kamu punya potensi untuk menjadi yang terbaik. Namun, ambisimu rupanya menutup hati dan pikiranmu. Jika kamu kupilih sebagai abdi kerajaan, bisa jadi ambisimu yang meledak-ledak akan membuat kamu tidak fokus pada tugas utamamu. Pilihan menjadi pendamping Sang Pangeran yang kutawarkan tadi, sebenarnya untuk menguji kalian. Kamu langsung melupakan tujuan utama datang ke sini, yakni memberikan yang terbaik bagi kerajaan serta langsung berambisi untuk hal yang lebih tinggi. Sementara pemuda yang satu lagi, sudah menunjukkan sikap yang bijaksana. Aku butuh orang dengan sikap yang membumi untuk menjalankan negeri ini. Kamu harus belajar lebih banyak lagi agar mampu mengendalikan ambisimu.”

Raja pun berkata kepada pemuda yang satu lagi, “Kamu kuangkat sebagai abdi kerajaan, dan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi pendamping putraku.”

Hikmah Cerita

Hikmah yang dapat kita ambil dari cerita di atas adalah bagaimana tujuan awal merupakan hal terpenting untuk kita kejar. Punya ambisi boleh saja, tapi jangan sampai melupakan target utama yang telah kita tetapkan sebelumnya. Jika itu belum tercapai, jangan gampang tergoda pada hal yang bisa jadi adalah “jebakan” yang akan membelokkan kita dari tujuan.

Ambisi berlebih, tak jarang malah akan membuat apa yang sudah diraih menjadi kehilangan makna. Harta yang berlebihan, malah jadi beban pikiran. Jabatan yang tinggi tentu membuat sibuk dan sulit membagi waktu bersama keluarga. Pangkat yang menjulang, bisa melenakan dan memunculkan kesombongan. Jika dibiarkan, sering kali ambisi yang berlebih untuk meraih berbagai macam hal, menjerumuskan dalam beraneka ragam masalah.

Mari, jangan jadikan diri kita memperhatikan yang satu, tapi melalaikan yang lain. Tetapkan fokus, sehingga kita tidak akan “kehilangan” kesempatan yang berharga, demi mengejar ambisi yang lebih sering tak pasti.

Mari, terus bersyukur, tetap membumi dan mau berbagi, lakukan pilihan bijak, untuk menjadikan apa yang akan, sedang, dan telah kita kerjakan menjadi hal yang lebih membawa kebaikan dan keberkahan.

Sumber


Artikel Terkait :

About Eki Baehaki

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *