Mahar pernikahan
Foto: Mahar pernikahan (pamotan)

Mahar Seperti Apakah yang Dianjurkan dalam Islam?

Mahar pernikahan
Foto: Mahar pernikahan (pamotan)

INSPIRADATA. Mahar. Salah satu hal terpenting dalam sebuah pernikahan, yaitu pemberian yang diberikan suami kepada istri dengan kerelaan.

Dilansir oleh Daily Moslem, dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 4 tertulis sebuah perintah untuk memberikan mahar atau mas kawin.

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya,” (QS. An-Nisa: 4).

Sedangkan besaran mas kawin itu sendiri disesuaikan dengan kadar yang pantas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kawinilah mereka dengan seijin keluarga mereka dan berikanlah mas kawin mereka sesuai dengan kadar yang pantas, karena mereka adalah perempuan – perempuan yang memelihara diri,” (Q.S. al-Nisa’: 25).

Disisi lain, mahar yang diminta pun dilarang memberatkan calon suami dan harus disesuaikan dengan kadar kemampuan calon suami. Seperti sabda Rasulullah SAW:

“Wanita yang paling banyak berkahnya adalah yang paling ringan mas kawinnya,” (HR. Hakim dan Baihaki).

Walaupun seperti itu, tetap disarankan untuk memberikan mahar berupa benda yang berharga atau memiliki nilai supaya mahar tersebut bisa digunakan oleh istri sebagai cadangan untuk nafkah ketika sesuatu terjadi pada suaminya dan menyebabkan ia jadi tidak bisa menafkahi istrinya. Misalnya, di masa lalu jika sang suami pergi berperang selama beberapa bulan, maka ia tidak bisa menafkahi istrinya.

Rasulullah sendiri memberi mas kawin kepada istri-istrinya berupa Uqiyah yang nilainya setara lima ratus dirham.

Seperti yang dijelaskan dalam hadist riwayat Muslim:

“Dari Siti Aisyah ketika ditanya, berapa mas kawin Rasulullah saw? Siti Aisyah menjawab: “Mas kawin Rasulullah saw kepada isteri-isterinya adalah dua belas setengah Uqiyah (nasya’ adalah setengah Uqiyah) yang sama dengan lima ratus dirham. Itulah mas kawin Rasulullah saw kepada isteri-isterinya,” (HR. Muslim).

Dapat disimpulkan bahwa mas kawin yang diberikan kepada istri sebaiknya benda yang berharga atau memiliki nilai sebagai penghormatan kepada istri dan keluarganya, juga sebagai cadangan harta bagi sang istri jika terjadi sesuatu yang menyebabkan suami tidak bisa memberi nafkah.

BACA JUGA: 

Demi Bahagiakan Suami, Bolehkan Seorang Istri Lakukan Operasi Plastik?

Inilah 4 Sifat Calon Penghuni Surga yang Bisa Dilihat di Dunia

Dan yang terpenting adalah jumlah mahar tersebut tidak memberatkan bagi suami dan juga dapat diterima dengan ikhlas oleh istri dan keluarganya. []


Artikel Terkait :

About Nabila Maharani

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *