Makna di Balik Khitbah

INSPIRADATA. Ketika seseorang telah bertemu dengan orang yang pas, maka alangkah lebih baik bagi mereka untuk melangsungkan pernikahan. Hanya saja, ternyata proses menikah tidak serta merta langsung terjadi. Ada tahap lain sebelum itu yang harus dilalui. Yakni mengkhitbah. Apa itu khitbah?

Al-Khitbah dengan dikasrah ‘kho’nya berarti pendahuluan “ikatan pernikahan” yang maknanya permintaan seorang laki-laki pada wanita untuk dinikahi. Dan hal ini pada umumnya ada pada laki-laki. Maka yang memulai disebut “khoothoban” (yang meminang) sedang yang lain disebut “makhthuuban” (yang dipinang).

Meminang itu sunnah sebelum akad nikah, karena Nabi Muhammad ﷺ meminang untuk dirinya dan untuk yang lain. Dan tujuan meminang yaitu mengetahui pendapat yang dipinang, apakah ada setuju atau tidak. Demikian juga untuk mengetahui pendapat walinya.

Meminang itu akan mengungkap keadaan, sikap wanita itu dan keluarganya. Di mana kecocokan dua unsur ini dituntut sebelum akad nikah, dan Nabi ﷺ telah melarang menikahi seorang wanita kecuali dengan izin wanita tersebut. Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, telah bersabda Rasulullah ﷺ, “Tidak dinikahi seorang janda kecuali sampai dia minta dan tidak dinikahi seorang gadis sampai dia mengijinkan (sesuai kemauannya).” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana ijinnya?” Beliau menjawab, “Jika dia diam.”

Maka bila janda dikuatkan dengan musyawarahnya dan wali butuh pada kesepakatan yang terang-terangan untuk menikah. Adapun gadis, wali harus minta izinnya, artinya dia dimintai izin/ pertimbangan untuk menikah dan tidak dibebani dengan jawaban yang terang-terangan untuk menunjukkan keridhaannya. Tetapi cukup dengan diamnya, sungguh dia malu untuk menjawab dengan terang-terangan.

Dan makna ini juga terdapat dalam hadis ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bahwa beliau berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya gadis itu akan malu.” Maka beliau bersabda, “Ridhanya ialah diamnya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akan tetapi hendaknya diyakinkan bahwa diamnya adalah diam ridha, bukan diam menolak, dan itu harus diketahui oleh walinya dengan melihat kenyataan dan tanda-tandanya. Dan perkara ini tidak samar lagi bagi wali pada umumnya.

Adapun kesepakatan wali dari pihak wanita itu merupakan perkara yang harus dan merupakan syarat dalam nikah menurut jumhur ulama. Karena jelasnya hadis dari Nabi ﷺ yang bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan wali,” (HR. Ahmad dan Ashhabus Sunan).

Dan jumhur mengambil dalil atas syarat ridhanya wali dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya,” (QS. Al-Baqarah: 232).

Artinya, “Jangan kau cegah wanita yang tercerai untuk kembali ke pangkuan suaminya, karena dia lebih berhak untuk ruju’ jika memungkinkan secara syariat.” Telah berkata Imam Syafii, “Ini ayat yang paling jelas tentang permasalahan wali dan kalau tidak maka pelarangan wali tidak bermakna,” (Lihat Subulussalaam Syarah Bulughul Maram, Ash-Shan’any, juz 3 hal 130).

Jadi, sebelum melangsungkan pernikahan khitbahlah terlebih dahulu. Hal ini dilakukan sebagai tanda Anda melamar calon pasangan hidup yang telah Anda pilih. Dengan begitu, secara langsung Anda pun meminta izin kepada sanak saudara, terutama wali dari calon pilihan Anda itu. []

Sumber: www.walimah.info


Artikel Terkait :

About Eki Baehaki

Check Also

alasan suami selingkuh

Perhatikan, 5 Hal Sepele Ini Bisa Jadi Tanda Pasangan Anda tengah Berselingkuh

Meski demikian, ada juga orang yang tetap biasa saja dengan HP. Kemana-mana dia tidak perlu terlalu sering memegang handphone. Membuka handphone kalau ada notifikasi saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *