Malangnya, Siswa di Desa Ini Harus Digendong Orangtua Lewati Sungai ke Sekolah

INSPIRADATA. Hari Pendidikan Nasional menjadi momen kependidikan bagi Indonesia, memperingatinya dengan berbagai macam aktivitas-aktivitas yang diusahakan agar bermanfaat bagi pendidikan. Namun, potret kelam dunia pendidikan masih banyak terlihat di Indonesia. Salah satunya di Desa Ulu Mahuam, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara.

Para pelajar di Desa Ulu Mahuam memaksa mereka untuk bertaruh nyawa saat pergi dan pulang dari sekolah. Di desa tersebut tidak ada sarana tranportasi angkutan desa serta fasilitas infrastruktur jembatan. Sehingga menyulitkan mereka untuk mendapat pendidikan di sekolah.

Tempat tinggal warga yang berada 4 kilometer dari sekolah dasar terdekat SD 115501 Silangkitang memaksa siswa melintasi sungai deras di areal hutan perkebunan.

Tak ada pilihan, jalan alternatif lain akan memperpanjang jarak tempuh menjadi 6 kilometer dengan medan menanjak terjal yang harus ditaklukkan.

Sebagian warga dan orangtua pelajar menyisihkan waktu mereka membantu para pelajar sekolah dasar ini menyeberangi arus deras sungai selebar 15 dengan bantuan tali tambang, para siswa yang rata-rata masih duduk di kelas 2 dan 3 digendong secara bergiliran, itu pun tak membebaskan mereka dari risiko seragam atau peralatan sekolah yang basah terkena air.

Hal itu juga yang kerap menjadi penyebab para siswa dari desa Ulu Mahuam terpaksa absen sekolah. Seorang warga bernama Zulkarnaen Siregar terpanggil menggendong para siswa ini menyeberangi sungai deras dengan bantuan tali tambang.

“Kalau volume airnya meningkat karena musim hujan, ya harus dibantu supaya anak-anak ini enggak terlambat ke sekolah. Kalau nyebrang sendiri kan bahaya, air sungainya tinggi, ” tutur ayah 7 anak itu, Selasa (02/05/2017), lansir Okezone. 

“Terkadang sambil melihat ternak dan kebun, sekalian bantu menyeberangkan daripada pakaiannya basah” lanjutnya.

Sementara, Fatimah Hanum, Kepala sekolah dasar 115501 Silangkitang membenarkan sebagian siswanya kerap terganggu mengikuti aktivitas belajar-mengajar karena tidak adanya jembatan yang dibangun di area tersebut.

“Ada yang tinggal di perkampungan jadi harus melintasi sungai. Jumlah mereka sekira 45 siswa, yang SMP dan SMA juga ada. Kadang mereka tak jadi sekolah karena tidak dapat menyeberangi sungai. Jadi kadang mereka ketinggalan belajar. Kita berharap pemerintah bisa memasang rambin supaya enggak mengganggu aktivitas belajar siswa,” lanjut Fatimah. []

Sumber: Okezone


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

dampak buruk bekerja dari rumah

Pekerja Keras Rentan Alami Burnout, Ini Ciri-cirinya

Stres pun biasanya akan datang saat sudah sangat letih bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *