Foto: Thyme for Cocktails

Malas, Maksiat atau Bukan?

Sseorang bertanya tentang hakikat kemalasan, “apakah malas termasuk maksiat atau bukan?”

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata:

ذُكِرَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِجَالٌ يَجْتَهِدُونَ فِي الْعِبَادَةِ اجْتِهَادًا شَدِيدًا فَقَالَ : ( تِلْكَ ضَرَاوَةُ الْإِسْلَامِ وَشِرَّتُهُ ؛ وَلِكُلِّ ضَرَاوَةٍ شِرَّةٌ ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ ، فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى اقْتِصَادٍ وَسُنَّةٍ : فَلِأُمٍّ مَا هُوَ ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى الْمَعَاصِي : فَذَلِكَ الْهَالِكُ ) رواه أحمد (2/165) وحسنه الألباني في “السلسلة الصحيحة” (رقم/2850

“Disebutkan kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam tentang orang-orang yang sangat semangat sekali dalam beribadah, maka beliau berkata, “Itulah puncak semangat (pengamalan) Islam dan kesungguhannya. Setiap setiap semangat akan mencapai puncaknya, dan setiap puncaknya akan ada masa kemalasan. Barangsiapa yang waktu malasnya dalam batas wajar dan tetap dalam sunnah, maka dia telah menempuh jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang kemalasannya melakukan kemaksiatan, maka itulah yang celaka.’’ (HR. Ahmad, 2/165. Dihasankah oleh Al-Albany dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah, no. 2850)

Seperti dijelaskan situs yang diawasi Syekh Mohammad Al Munajjed, islamqa.com, penjelasan dari kata Futur adalah kemalasan dan berleha-leha setelah semangat dan giat.

Tidak diragukan lagi, hal itu merupakan penyakit pada diri seseorang pada suatu waktu. Baik dalam masalah agama atau urusan dunia. Hal tersebut merupakan tabiat yang Allah telah ciptakan.

Setiap orang Muslim –bahkan setiap manusia- didapatkan pada dirinya semangat dalam beribadah, berakhlak nan mulia dan (semangat) dalam mencari ilmu dan berdakwah. Kemudian setelah berjalan beberapa waktu, ditimpa kemalasan. Sehingga semangatnya melemah untuk melakukan kebaikan yang telah dilakukannya beralih pada kemalasan dan ingin istirahat.

Setiap orang akan diperhitungkan sesuai dengan kemalasannya.

Selaras dengan hadits di atas, barangsiapa yang ketika malas sampai meninggalkan kewajiban dan jatuh ke sesuatu yang diharamkan, maka dia dalam bahaya besar. Maka kemalasannya menjadi suatu kemaksiatan, harus dikhawatirkan sampai pada suul khatimah. Kami momohon kepada Allah kebaikan.
Sedangkan jika malas melaksanakan keutaman dan sunnah, tapi dia tetap menjaga kewajiban, menjauhi dosa besar dan sesuatu yang diharamkan, hanya saja waktu melakukannya (kebaikan) berkurang seperti dalam mencari ilmu, qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an. Maka kemalasannya seperti itu diharapkan hanya sesaat saja, semoga selesai dalam waktu dekat insyaallah. Akan tetapi memerlukan sedikit cara yang bijaksana dalam mengobatinya.

Ungkapan ‘Faliammin ma huwa’ dalam hadits di atas adalah, bisa kembali di waktu kemalasannya kepada asal yang agung yakni (sesuai dengan) sunnah. Atau ia dalam kondisi di jalan yang lurus selagi masih berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah. Dalam sebagian redaksi lain dikatakan, ‘Faqad aflaha (sungguh dia telah beruntung)’. []

Sumber: islamqa.info


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *