Masya Allah! 3 Ulama Indonesia Ini Pernah Menjadi Imam Masjidil Haram

0 1.396

INSPIRADATA. Makkah menjadi salah satu destinasi bagi warga Indonesia untuk mencari ilmu. Tak jarang pemuda-pemudi Indonesia yang pada akhirnya melanjutkan sekolahnya ke Arab Saudi.

Akan tetapi, tak hanya mencari ilmu, bahkan ada beberapa ulama Indonesia yang juga pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Ilmu yang tinggi dan akhlak terpuji, membuat mereka mempunyai kedudukan tinggi di Negara jantungnya umat Islam.

Menurut catatan sejarah, ada tiga ulama Indonesia yang pernah menjadi Imam di Masjidil Haram, yaitu Syekh Junaid Al Batawi, Syekh Imam Nawawi Al Bantani, dan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

Tiga ulama itu merupakan panutan bagi jemaahnya serta memiliki pengikut yang sangat banyak. Bahkan buah pemikiran mereka pun turut mengawali kemerdekaan di tanah air.

Pertama, Syekh Junaid Al-Batawi lahir di Pekojan, Jakarta Barat. Beliau dikenal sebagai guru yang memiliki komitmen tinggi dalam mengajar, seluruh hidupnya dihabiskan untuk berbagi ilmu kepada murid-muridnya. Syekh Junaid dikenal sebagai syeikhul masyayikh madzhab Syafii.

Dari sekian banyak muridnya, munculah nama Iman Nawawi Al Bantani. Syekh Junaid Al-Batawi wafat di Makkah pada tahun 1840. Beliau meninggal pada usia sekitar 100 tahun. Berkat jasa beliau juga, nama Betawi untuk pertama kalinya terkenal di mancanegara.

Kedua, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Beliau lahir di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815. Beliau dikenal dengan karyanya yang banyak.

Ayahnya, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani merupakan ulama ternama di Banten, sekaligus menjadi guru pertama bagi Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Taka hanya kepada ayahnya, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani pun belajar kepada ulama banten lainnya hingga memutuskan pergi ke Makkah pada usia 15 tahun.

Di Makkah, beliau semakin mempertajam ilmunya kepada guru di sana selama kurang lebih 30 tahun. Semakin lama, ilmu Syekh Muhammad Nawawi pun semakin dalam dan muridnya banyak berdatangan dari berbagai negara.

Kemudian namanya lebih dikenal dengan Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Artinya beliau berasal dari Banten, Jawa. Puncak kemahsyurannya ketika beliau ditunjuk sebagai pengganti imam Masjidil Haram. Syekh Nawawi meninggal di Mekkah tahun 1897.

Ketiga, Syekh Ahmad Khatib bin Abdul Latif al-Minangkabawi. Beliau lahir di Sumatera Barat, Koto Tuo, Kabupaten Agam, 26 Juni 1860.

Sejak kecil kecerdasannya pun sudah nampak. Kala itu, beliau diajak oleh ayahnya, Syekh Abdul Latif pergi ke Makkah pada usia 11 tahun untuk menunaikan ibadah haji. Namun, setibanya di tanah suci, Ahmad pun enggan kembali dan ingin menetap demi menyelesaikan hafalan Al Qurannya.

Selain menghafal Al Quran, Ahmad juga berguru kepada beberapa ulama, yakni Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy.

Keilmuannya yang semakin tinggi, membuat Syekh Ahmad diangkat menjadi imam dan khatib serta staff pengajar di Masjidil Haram. Ketiga jabatan itu bukan posisi yang sembarangan, hanya bisa diraih dengan usaha yang keras dan iman yang kokoh.

Syekh Ahmad Khatib memiliki murid yang hingga kini namanya masih dikenal oleh umat Islam di Indonesia, di anatarnya Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul, ayah dari Buya Hamka), K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). []

 

Sumber: Beritagar

(Visited 605 times, 1 visits today)
loading...
loading...

You might also like More from author

Comments

Loading...