bangkitnya nabi isa
Foto: Saxony-Blue.com

Mata Buta, Bukan Halangan Baginya untuk Beribadah kepada Allah SWT

Di zaman ini, banyak manusia yang memiliki kesempurnaan fisik, namun gagal dalam mensyukurinya. Banyak mata yang bisa melihat namun lalai dalam membaca Al-Qur’an. Banyak mata bisa melihat namun lalai pergi ke Masjid untuk Shalat berjamaah. Banyak mata bisa melihat namun ia lakukan untuk bermaksiat kepada Allah.

Mungkin kita perlu belajar pada seorang sahabat nabi, yang mendapatkan ujian kebutaan sejak kecilnya. Meski buta, tidak menghalanginya untuk beribadah dan berjuang di jalan Allah SWT, ialah Abdullah bim Ummi Maktum.
Suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepadanya,

“Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?”

“Sejak kecil,” jawab Ummi Maktum.

Rasulullah SAW bersabda,

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.” (HR Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi).

Selain itu, ia adalah sosok yang dimuliakan Rasulullah SAW, karena ia menjadi Asbabun Nuzul turunnya surat ’Abasa 1-16. Sayyid Qutub berkomentar tentang ayat tersebut, “Mengapa engkau bermuka masam di hadapannya? Barangkali orang buta ini bisa menjadi mercusuar di bumi yang dapat menerima cahaya dari langit.”

Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang fakir miskin lagi buta yang menerima cahaya dari langit. Suatu hari dia mendatangi Rasulullah SAW, dan berkata,

“Wahai Rasulullah, rumahku sangat jauh dari masjid, dan aku tidak mempunyai penuntun dalam berjalan, maka apakah ada keringanan untukku (meninggalkan shalat jama’ah di masjid)?”

Lalu Rasulullah SAW pun memberinya keringanan. Namun, tatkala dia telah berpaling, Nabi berkata kepadanya,

“Apakah engkau mendengar suara azan?”

“Ya”

Nabi SAW bersabda, Maka jawablah seruannya, karena aku tidak mendapatkan keringanan untukmu.” (Ditakhrij oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad: 3/23. Dan Ibnu Mâjah: Kitabul Masâjid, Bab At-taghlidh Fit Takhalluf ‘anil jamâ’ah, No. 792)

Lantas, Abdullah selalu datang shalat berjamaah ke Masjid di cuaca dingin, panas, dalam kegelapan malam, dan tanpa seorang penunjuk jalan. Ia meraba-raba dalam kegelapan, ia berharap agar Allah menjadikan untuknya cahaya pada hari semua cahaya terputus bagi orang-orang yang berbuat dosa.

Sebuah keteledanan bagi kita semua yang tidak diuji dengan kebutaan sebagaimana sahabat Abdullah. Tentu “lebih wajib” bagi kita bagi seorang muslim untuk melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah.[]

Sumber: www.kiblat.net


Artikel Terkait :

About Tia Apriati Wahyuni

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *