hukum adik langkahi kakak menikah
Foto: Mohammad Baig

Mau Nikah, tapi Tidak Punya Uang? Ini Solusinya

Pada dasarnya, Islam bukan agama yang mempersulit, melainkan memberi kemudahan (yusrun), termasuk bagi orang miskin yang ingin menikah. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah, dan tidaklah seseorang memperberat urusan agama, kecuali dia akan dikalahkan oleh agama.” (HR. Bukhari, no. 38).

Kemudahan itu tampak dalam solusi berikut:

Pertama, Islam menetapkan kemiskinan bukan penghalang (mani’) bagi orang miskin untuk menikah.

Menikah hukumnya boleh bagi orang miskin, tidak haram.

Kepada mereka, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (artinya), “Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS. An-Nuur: 32)

Imam Ath-Thabari menafsirkan ayat ini bahwa, “Kemiskinan mereka tidaklah mencegah mereka untuk dinikahkan.” (Tafsir Ath-Thabari, 19/166).

Kedua, Islam menganjurkan agar mahar seringan mungkin.

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik mahar, adalah yang paling ringan [bagi laki-laki].” (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak no. 2692)

Mahar boleh berbentuk benda (‘ain) atau dalam bentuk jasa (manfaat).

Nabi shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada lelaki miskin yang akan menikah, “Carilah [mahar] walau hanya cincin besi.” 

Namun, lelaki itu tak mendapatkannya.

Lantas, Nabi shalallahu alaihi wa sallam bertanya, “Apakah kamu punya hafalan Alquran?” 

Lelaki itu menjawab, “Ya, surat ini dan surat itu.” 

Akhirnya, Nabi shalallahu alaihi wa sallam menikahkan lelaki itu dengan mahar berupa hafalan surat yang dia miliki. (HR Malik no. 968, Bukhari no. 4740, An-Nasa`i no. 3306, Ahmad no. 21783).

Ketiga, Islam membolehkan berutang (istiqradh) untuk mengatasi persoalan ini.

Berutang hukumnya jaiz (boleh) karena Nabi shalallahu alaihi wa sallam juga pernah berutang (istiqradh) kepada orang lain. (An-Nabhani, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, h. 259)

Keempat, Islam juga membolehkan akad dhoman (jaminan), yaitu akad yang dilakukan seseorang untuk menggabungkan tanggungan pihak lain kepada tanggungan orang itu. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al-Fuqaha, h. 213)

Kalau ada orang lain yang menjamin pembayaran mahar untuk istri Anda, ini dinamakan akad dhoman dan ini boleh menurut syara’. (An-Nabhani, An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam, h. 185)

Kelima, Islam memberikan solusi berupa puasa, sebagai upaya menjaga kesucian diri (iffah). (An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’I fi Al-Islam, h. 97)

Firman Allah (artinya): “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS An-Nuur : 33)

Sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam, “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kamu sudah sanggup menikah, menikahlah. Karena menikah itu lebih menjaga pandangan mata dan memelihara kemaluan. Kalau ia belum sanggup, hendaklah ia berpuasa karena puasa itu perisai baginya.” (HR. Bukhari no. 4677, Muslim no. 2485)

Inilah sebagian solusi Islam, yang jika diamalkan akan dapat mengurangi beban biaya nikah.

Yang kami cermati, kadang seseorang memperberat dirinya dengan sesuatu yang di luar kemampuannya, padahal itu tidak diwajibkan syara’.

Misalnya, walimahan, padahal walimahan hukumnya sunnah, tidak wajib.

Demikian pula memberikan srah-srahan (hadiah) kepada calon istri, hukumnya mubah, tidak wajib. 

Wallahu a’lam bishawab. []

 

Sumber: KonsultasiIslam  


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

alasan suami selingkuh

Perhatikan, 5 Hal Sepele Ini Bisa Jadi Tanda Pasangan Anda tengah Berselingkuh

Meski demikian, ada juga orang yang tetap biasa saja dengan HP. Kemana-mana dia tidak perlu terlalu sering memegang handphone. Membuka handphone kalau ada notifikasi saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *