Ini Nilai Ilmu bagi An-Nasa'i
Foto: Thinkpyxyl

Memaknai Hari Buku Nasional 2017

INSPIRADATA. Peringatan hari buku nasional kerap dikaitkan dengan minat baca, yang di Indonesia masih tergolong rendah jika kita melihat kepada hasil-hasil survey.

Dari data studi ‘Most Littered Nation in the World’ yang pernah dirilis Central Connecticut State University pada 2016 lalu, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara, persis di bawah Thailand dan di atas Bostwana.

Unesco juga pernah mengungkapkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen, yang artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca.

“Rendahnya minat baca atau literasi di Indonesia disebabkan oleh keterbatasan akses pada buku, banyak daerah tak memiliki perpustakaan dan toko buku, serta kebiasaan membaca yang tak dibentuk di bangku sekolah,” ungkap Okky Madasari, penulis novel “Entrok”, saat dihubungi di Jakarta, pada Rabu (17/05/2017), lansir CNN. 

Padahal, kata dia, membaca membawa banyak manfaat. Di antaranya, membaca merupakan aktivitas politik paling sederhana yang bisa seseorang lakukan.

“Dengan membaca kita melawan kedangkalan pikiran. Dengan membaca kita menolak untuk sekadar hanyut pada pendapat kebanyakan orang. Dengan membaca kita berpikir kritis,” ujarnya.

Peraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award itu menambahkan, membaca karya-karya sastra Indonesia telah mengubah banyak hal dalam dirinya, terutama akan cara pandang dalam melihat sesuatu.

“Membaca karya-karya Pramoedya membangkitkan kesadaran saya bahwa sebuah buku, sebuah cerita, semestinya didedikasikan untuk menyuarakan persoalan ketidakadilan dalam masyarakat,” ujarnya.

Sementara, buku-buku Umar Kayam mengajarinya untuk merefleksikan setiap hal kecil dalam kehidupan.

“Buku-buku Mangunwijaya mengajari saya makna humanisme dan religiositas. Tentu banyak lagi karya lain yang juga memiliki sumbangan besar bagi perkembangan kesadaran dan pemikiran saya.”

Mengenai Minat Baca dan Buku Bajakan

Okky menyayangkan, rendahnya angka literasi atau minat baca masyarakat Indonesia membuat penerbit tak bisa memproduksi dan menjual banyak buku. Akibatnya harga buku mahal karena biaya produksi tinggi. Belum lagi soal pajak dan biaya lain-lain. Sebagai penulis yang menjadi bagian dari industri perbukuan, ia harus akui keberadaan buku bajakan jelas tak bisa dibenarkan.

“Buku bajakan merugikan penulis, merugikan penerbit, merugikan seluruh rantai yang terlibat dalam industri,” katanya.

Namun, ia menegaskan semua itu harus ilhat lebih luas. “Kita harus melihat semua masalah perbukuan secara komprehensif. Buku bajakan hanya salah satu dampaknya saja, ada lingkaran yang saling terkait,” tambah dia.

“Jadi, mengatasi buku bajakan juga harus dibarengi dengan upaya menyelesaikan probelm akarnya,” katanya. []


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *