zikir
Foto: pixabay.com

Memilukan, 75 Persen Perempuan di Negara Ini Jadi Korban Pemerkosaan

Bersyukurlah kita semua telah lahir dan tinggal di Indonesia, dimana tingkat kejahatannya masih rendah. Bayangkan jika Anda—kaum hawa—tinggal di Liberia, dimana 75 persen perempuan di negara itu pernah di perkosa.

Kantor Komisioner Tinggi HAM (OHCHR) yang mengemban misi di Liberia, melaporkan bahwa 75 persen perempuan di negara itu pernah menjadi korban pemerkosaan. OHCHR sendiri mengatakan bahwa kasus pemerkosaan, menjadi kejahatan serius nomor dua di negeri itu.

Anak-anak perempuan Liberia berusia di bawah lima tahun, banyak yang menjadi korban pemerkosaan sepanjang tahun lalu di Liberia. Meski tahun lalu sebanyak 800 kasus pemerkosaan dilaporkan ke aparat penegak hukum, hanya 35 kasus yang dibawa ke meja hijau.

Para penyidik PBB menemukan bahwa keadilan di Liberia terganggu akibat lemahnya institusi hukum serta korupsi yang dilakukan aparat pemerintah.

“Kombinasi sejumlah faktor inilah yang menciptakan budaya impunitas meluas untuk kekerasan terkait jender dan seksual, khususnya kasus pemerkosaan serta menempatkan perempuan dan anak-anak dalam risiko mengalami kekerasan seksual,” demikian isi laporan itu seperti dilansir Independent.

Para penyidik mengatakan, tingginya angka pemerkosaan di Liberia adalah akibat dua kali perang saudara di negeri Afrika Barat itu pada 1989 dan 2003.

Antara 61-77 persen perempuan dan anak-anak di negeri itu diperkosa pada masa konflik bersenjata. Demikian hasil laporan yang dibuat sebelumnya oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun, sejauh ini tidak ada pertanggungjawaban apa pun terhadap para pelaku kejahatan perang di Liberia. PBB menambahkan, budaya dan mental patriarkhal semakin menghalangi investigasi terkait kasus-kasus pemerkosaan.

Berdasarkan data PBB, sepanjang tahun lalu hampir 80 persen korban pemerkosaan di Liberia berusia di bawah 18 tahun, termasuk setidaknya lima anak-anak di bawah usia lima tahun.

Meski demikian, para penyidik PBB mengatakan, statistik itu tak berarti anak-anak di Liberia secara khusus menjadi sasaran pemerkosaan.

PBB sendiri menyerukan penghentian impunitas terhadap para pelaku pelecehan seksual di Liberia.

Aparat kepolisian di Liberia mengatakan, sebagian besar kasus pemerkosaan tak dilaporkan karena stigma buruk dan diskriminasi terhadap para korban pemerkosaan.

“Dalam konteks Liberia, korban menghadapi tantangan setiap hari dalam proses ini jika mereka mencoba menyeret para pemerkosa ini ke depan hukum,” lanjut laporan tersebut.

Banyak keluarga korban pemerkosaan yang dipaksa untuk menyelesaikan kasus ini secara damai, sementara sebagian besar pelaku adalah para pria yang dikenal baik keluarga korban.

Para pelaku ini biasanya adalah kerabat atau anggota komunitas yang sama. Artinya, para korban pemerkosaan ini takut dipermalukan secara sosial jika mereka melaporkan kasus ini ke aparat hukum.

PBB merekomendasikan evaluasi terhadap undang-undang kriminal negara itu agar mencapai standar internasional dan mengusulkan pembuatan undang-undang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dengan undang-undang ini, lanjut PBB, maka pemerkosaan dalam pernikahan bisa dikriminalkan dan bisa menjadi dasar pembentukan divisi kejahatan seksual di pengadilan. []


Artikel Terkait :

About Dini Koswarini

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *