bunuh diri di jepang (foto: antaranews)
Hutan Aokigahara, tempat favorit bunuh diri di Jepang (foto: the daily japan)

Mengapa Banyak Tragedi Bunuh Diri di Jepang?

bunuh diri di jepang (foto: antaranews)
bunuh diri di jepang (foto: antaranews)

INSPIRADATA. Negara Jepang masuk ke dalam negara paling teratas yang tingkat bunuh dirinya sangat tinggi, meski tingkat bunh diri di sana masih di bawah Korea Selatan.

Bahkan tiap harinya di Jepang banyak tragedi bunuh diri. Hal itu dipicu oleh beberapa faktor yang menyebabkan warga Jepang memilih untuk melakukan tindakan buruk itu.

Dilansir the daily japan.com, berikut beberapa alasan mengapa di Jepang banyak tragedi bunuh diri:

1. Pengaruh dari Praktek Sejarah
menurut Wataru Nishida, seorang psikolog dari Universitas Temple Tokyo, salah satu yang menjadi alasan orang Jepang melakukan tindakan bunuh diri ialah karena Praktek Samurai ‘Seppuku’. yaitu Ritual Bunuh Diri.

Orang-orang Jepang sering mengutip tradisi sejarah Jepang tentang “bunuh diri terhormat” sebagai alasan untuk mengakhiri hidupnya.

Praktek Samurai untuk melakukan “Seppuku” atau para pilot muda dengan “Kamikaze” ditahun 1945, menunjukkan ada alasan budaya yang berbeda mengapa orang Jepang lebih cenderung untuk mengambil kehidupan mereka sendiri.

“Jepang tidak memiliki sejarah kekristenan, jadi di sini bunuh diri bukanlah dosa. Bahkan, beberapa melihat hal itu sebagai cara untuk mengambil tanggung jawab,” ucap Nishida.

“Ketika semuanya gagal, beberapa orang merasa Anda hanya bisa bunuh diri dan asuransi akan membayar.,”tambahnya.

Ken Joseph dari Japan Helpline pun setuju. Ia mengatakan pengalaman mereka selama 40 tahun terakhir menunjukkan bahwa orang tua yang berada dalam kesulitan keuangan dapat melihat bunuh diri sebagai jalan keluar dari masalah mereka.

“Sistem asuransi di Jepang sangat lemah, ada yang datang dan membayar untuk bunuh diri,” ungkapnya.

“Jadi ketika semuanya gagal, beberapa orang merasa bunuh diri adalah jalan keluar dan akan di tolong oleh asuransi.”

“Kadang-kadang ada tekanan tak tertahankan pada orang tua bahwa hal yang paling penuh kasih yang dapat mereka lakukan adalah mengambil kehidupan mereka dan dengan demikian memberikan sesuatu (uang asuransi) bagi keluarga mereka.”

2. Masalah Keuangan
Beberapa ahli berpikir tingkat bunuh diri di Jepang sebenarnya jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan. Banyak kematian tunggal dari orang tua yang tidak pernah sepenuhnya diselidiki oleh polisi. Menurut Ken Joseph, praktek universal mengkremasi mayat di sini juga berarti bahwa bukti apapun cepat hancur dan hilang.

Tapi itu terjadi bukan hanya kepada laki-laki lanjut usia yang berada dalam kesulitan keuangan akan memutuskan untuk melakukan tindakan mengakhiri hidup, demografi bunuh diri berkembang kepada para anak muda. Sekarang para pelaku bunuh di dominasi pria berusia 20-44 tahun.

Beberapa bukti menunjukkan anak muda melakukan bunuh diri karena mereka telah kehilangan harapan dan tidak mampu mencari bantuan. Catatan ini mulai melonjak setelah krisis keuangan Asia pada tahun 1998 dan naik lagi setelah krisis keuangan tahun 2008 di seluruh dunia.

3. Isolasi
Teknologi dapat membuat hal-hal yang buruk, meningkatkan isolasi anak-anak muda. Jepang terkenal dengan kondisi yang disebut Hikikomori, jenis penyakit sosial yang akut.

Hikikomori ialah Penyakit dan fenomena di kalangan remaja di Jepang yang menarik dan mengurung diri dari kehidupan sosial.

Mereka mengurung diri dengan menonton TV, browsing internet, membaca manga, bermain game, atau hanya merenungkan masalah yang sedang di alami dan bahkan membuat mereka tidak melakukan kontak dengan keluarga dan teman. Untuk berapa lama? Ada yang melakukannya hingga bertahun-tahun.

Itu beberapa alasan mengapa banyak terjadi tragedi bunuh diri di Jepang. []

Baca Juga: Polisi Hentikan Penyelidikan Kasus Bunuh Diri Pahinggar Indrawan, Facebook Luncurkan Fitur Pencegah Bunuh Diri, Bos JKT48 Ditemukan Gantung Diri di Kamar Mandi


Artikel Terkait :

About Irah Wati

Check Also

Jangan Langsung Minum Air Dingin ketika Berbuka Puasa! Ini Akibatnya!

Langsung minum air es saat berbuka puasa ternyata tak baik bagi tubuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *