Inspirasi dan Data

Mengapa Suami Bisa Tega Bunuh Istri? Ini Jawaban Ilmiahnya

0

Baru-baru ini berita pembunuhan yang dilakukan seorang suami terhadap istri menggemparkan masyarakat. Pasangan dokter itu harus berpisah dengan cara yang sangat memilukan. Berbagai kecaman datang dari masyarakat luas terhadap sang suami, karena tega menghabisi nyawa istrinya sendiri.

Lalu apa yang menjadikan seorang suami tega membunuh istri?

Dijelaskan dalam dunia psikologis, konsep uxoricide (pembunuhan seorang istri), berasal dari kata uxor (istri) dan cide/caedere (membunuh). Lawannya adalah mariticide yaitu pembunuhan terhadap suami.

Dikutip dari ‘Psychodynamics of homicide committed in a marital relationship’ yang ditulis B. M. Cormier (1982) dimuat dalam Corrective Psychiatry and Journal of Social Therapy, pria yang tega membunuh pasangan memiliki ketergantungan yang tak disadari terhadap istri, namun terlanjur menyimpan kebencian terhadap pasangannya.

Orang-orang ini ingin meninggalkan hubungan itu, tapi beranggapan diri mereka terlalu tidak berdaya untuk melakukannya, yang berujung pada keyakinan bahwa membunuh istri adalah satu-satunya cara untuk bebas dari itu.

Pengalaman menjadi korban kekerasan di masa kanak-kanak juga kemungkinan membuat seseorang melakukan uxoricide. Dari laporan berjudul ‘Predisposing Childhood Factors for Men Who Kill Their Intimate Partners’ oleh David Adams (2009) yang terbit di Jurnal Victims & Offenders, menjadi korban pelecehan di masa kanak-kanak menyebabkan seseorang terdorong menjadi pelaku kekerasan dalam rumah tangga di masa dewasa.

Dalam kasus ini, kekerasan adalah bentuk adaptasi pertahanan diri tidak disadari yang dipicu trauma masa kanak-kanak dan kejadian buruk lainnya.

Menurut Aaron Ben-Zeev dalam artikel berjudul ‘Why Do (Some) Men Murder the Wives They Love?’ terbit di laman Psychology Today mengungkapkan bahwa para pria yang tega membunuh istrinya memiliki dua alasan besar.

Pertama, pembunuhan bermula dari sifat posesif maskulin dengan kecemburuan dan kemarahan merupakan dua emosi yang memicunya. Kedua, pembunuhan adalah klimaks dari riwayat kekerasan yang mendahuluinya.

Pernyataan untuk berpisah dari pihak istri adalah penyulut, dipandang sebagai ancaman yang terasa begitu menekan bagi seorang suami. Lebih lanjut menurut Aaron, beberapa kondisi utama yang mendorong aksi kekerasan berujung pembunuhan antara lain sebagai berikut.

Pertama, merasakan bahwa istrinya adalah dunianya sehingga dia merasa bahwa pisah berarti kehilangan identitas dirinya.

Kedua, persepsi lama pria tentang maskulinitas yang beranggapan bahwa pria memiliki kekuatan, kehormatan, dan kontrol dalam kehidupan rumah tangga, yang mana bertentangan dengan realitas ketergantungannya pada istrinya.

Ini membuat persepsi bahwa ketergantungan pada istri adalah bentuk kelemahan dan penghinaan terhadap kehormatan maskulin. []

Sumber: Brilio

loading...
loading...
Comments
Loading...