Mengenal 5 Pasukan Elite Anti-Teror di Indonesia

0

Untuk kesekian kalinya, aksi teror bom kembali terjadi di Indonesia. Seperti yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur beberapa waktu lalu, secara khusus penanganan terorisme ditangani Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri.

Namun, selain Densus 88, ternyata masih ada sejumlah pasukan khusus antiteror yang dimiliki aparat di luar kepolisian, dalam hal ini TNI.

Berikut adalah pasukan-pasukan khusus antiteror yang dimiliki Indonesia.

1. Detasemen Khusus 81 Kopassus (TNI AD)

Pasukan khusus ini dikenal dengan nama Sat-81 atau dulu disebut sebagai Den-81 Gultor (Penanggulangan Teror). Pasukan ini dibentuk pada 30 Juni 1982.

Latar berlakang dibentuknya Sat-81 berawal dari keberhasilan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus) melakukan pembebasan sandera oleh teroris yang membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla di Thailand pada 31 Maret 1981.

Operasi Kopassandha tersebut di bawah komando Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI.

Mengenal Pasukan Khusus Anti Teror di Indonesia
Kopassus memiliki unit khusus penanggulangan teror, yakni Sat-81 Gultor. (Foto: CNN Indonesia/Ramadhan Rizki Saputra).

Komandan pertama Sat-81 adalah Luhut Binsar Panjaitan dan wakilnya adalah Prabowo Subianto.

Pada masa awal pembentukan Sat-81 Luhut dan Prabowo harus dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mempelajari upaya penanggulangan teror.

Sekembalinya ke Indonesia, keduanya dipercaya menyeleksi dan melatih para prajurit Kopassandha yang akan ditugaskan bergabung ke Sat-81.

Ciri khas dari pasukan ini adalah bergerak dalam unit kecil dengan durasi penyelesaian singkat dalam menanggulangi serangan teroris sebagaimana visi dan misinya, “tidak diketahui, tidak terdengar, dan tidak terlihat”.

2. Detasemen Jalamangkara (TNI AL)

Pasukan elite yang disingkat dengan nama Denjaka ini merupakan detasemen khusus penanggulangan teror aspek laut.

Denjaka merupakan gabungan personel dari dua pasukan khusus TNI AL, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) Korps Marinir.

Denjaka dibentuk pada 13 November 1984. Kemampuan Denjaka tidak hanya untuk bertempur tetapi juga sebagai satuan intelijen tempur handal.

Mengenal Pasukan Khusus Anti Teror di IndonesiaDetasemen Jalamangkara. (Foto: ANTARA/M Agung Rajasa).

Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai.

Pasukan yang dijuluki hantu laut ini juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, vertikal, dan udara.

3. Satuan Bravo 90 (TNI AU)

Satuan khusus yang juga dikenal dengan nama Satbravo-90 (sebelumnya Detasemen Bravo 90) ini merupakan satuan pelaksana operasi khusus Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) yang berkedudukan di bawah Komandan Korpaskhas.

Satbravo-90 dibentuk sekitar tahun 1990 pada era kepemimpinan Marsma TNI Maman Suparman selaku Komandan Puspakhas saat itu.

Mengenal Pasukan Khusus Anti Teror di IndonesiaIlustrasi Satbravo-90. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

Spesialisasi Satbravo-90 adalah melumpuhkan alustsista musuh dalam mendukung operasi dan penindakan teror serta pembajakan di udara. Satbravo-90 memiliki moto ‘Setia, Terampil, Berhasil’.

4. Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab)

Selain keempat pasukan khusus di atas, pemerintah pernah membentuk Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab).

Koopssusgab dibentuk pada 9 Juni 2015 oleh Jenderal Moeldoko selaku Panglima TNI kala itu.

Tim ini merupakan gabungan pasukan khusus dari tiga matra TNI, yakni Sat-81, Denjaka, dan Satbravo-90.

Mengenal Pasukan Khusus Anti Teror di IndonesiaSatuan Komando Operasi Khusus Gabungan. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).

 

Pasukan khusus ini berjumlah 90 personil. Mereka disiagakan di wilayah Sentul, Bogor, Jawa Barat dengan status operasi sehingga siap siaga setiap saat ada perintah untuk terjun menanggulangi teror.

Pasukan ini sudah ditiadakan.

Namun, baru-baru ini Moeldoko yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan menyarankan Presiden Joko Widodo untuk menghidupkan kembali Kopssusgab.

Saran ini tak lepas dari peristiwa penyerangan dan penyanderaan oleh napi teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Selasa (8/5/18) sampai Kamis (10/5/18) lalu.

5. Detasemen Khusus 88 Antiteror (Polri)

Satuan khusus dari unsur kepolisian yang juga dikenal dengan nama Densus 88 ini ditugaskan untuk menangani segala macam ancaman teror, termasuk teror bom dan juga penyanderaan.

Komposisi tim ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak sebagai penjinak bom, dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Mengenal Pasukan Khusus Anti Teror di IndonesiaDensus 88 Antiteror Polri. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki).

Densus 88 dirintis oleh Gories Mere dan diresmikan pada 26 Agustus 2004 oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Jenderal Polisi Firman Gani. Angka 88 yang disematkan berasal dari kata ATA (Anti-terorisme Act).

Jika pelafalannya menggunakan logat Inggris menjadi berbunyi Ei Ti Ekt (eighty eight).

Sejumlah operasi yang pernah sukses dilakukan oleh Densus 88 diantaranya, penggerebekan buronan Dr Azhari di Kota Batu Malang, Jawa Timur pada 2005. Penangkapan Yusron Mamudi alias Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah. Selain itu, Pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari, Jebres, Solo. Dalam operasi ini 4 teroris tewas, salah satunya adalah Noordin M Top. []

 

Sumber: CNNIndonesia

Kamu Sedang Offline