hari moekti
Foto: Indopos/Suara.com

Menggetarkan, Kisah Tobatnya Ustaz Hari Moekti, dari Rocker Jadi Dai

Kabarnya meninggalnya sang mantan rocker Indonesia era 80-an Hari Moekti tentu membawa duka mendalam, terutama bagi keluarga, kerabat, sahabat, dan siapa saja yang mengenal dekat dengan sosoknya.

Hari yang kesehariannya kini tak lepas dari dakwah menyampaikan ajaran Islam seutuhnya sebagai rahmatan lil alamin, ternyata memiliki kisah inspiratif mengenai perjalanan hijrahnya dari bintang rocker menjadi seorang dai.

Dalam wawancaranya, Hari Moekti membagikan awal mula kisah perjalanan tobatnya itu.

BACA JUGA: Wafat di Jalan Dakwah, Inilah Profil dan Kisah Hijrah Sang Mantan Rocker Hari Moekti

Sindiran apa yang kudapat, “Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala, bermanfaat menerangi lingkungan, tetapi tubuhnya terbakar.”

Ramadhan 1995, aku diundang dalam acara dialog interaktif “Buka Puasa Bersama Artis” di SMAK Analisis Kimia Bogor.

Saat itu dialog dengan Adi Maretnas dengan moderator Muhammad Syamsul Arifin.

Adi ini kok pinter banget, pikirku.

Masih muda, tetapi otaknya seperti kiai saja karena semua argumenku terbantahkan.

Usai acara Syamsul ngobrol denganku.

Dia mengajak aku untuk mengaji kepadanya.

Aku bertanya, boleh enggak aku mengaji lagi di tempat lain.

“Boleh, ngaji itu bisa ke mana saja. Yang penting kita punya pemahaman,” jawab Syamsul.

“Pemahaman apa?” tanyaku.

“Kepemimpinan berpikir. Pemimpin kita itu bukan perasaan, tetapi pikiran kita yang diatur oleh syariah Islam. Jadikanlah Islam sebagai kepemimpinan berpikir,” tandasnya.

“Intelek sekali, hebat banget ucapan-ucapan kayak begini,” ujarku dalam hati.

Ia berbicara panjang lebar.

Akhirnya, aku mengerti ternyata sekitar 80 persen ajaran Islam adalah terkait politik.

Artinya, sebagian besar ajaran Islam itu mengatur seluruh kehidupan manusia, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, peradilan, pemerintahan, dan lainnya.

Sisanya, ya terkait ibadah mahdlah dan lainnya.

Seperti Lilin

Sejak itu aku dibina seorang ustaz muda secara rutin dengan berbagai dalil, di antaranya surah Al-Mulk ayat 2, “agar Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang amal perbuatannya paling sempurna.

Aku sebagai artis banyak amalnya.

Membangun masjid, sunatan massal, sedekah menyekolahkan anak-anak orang miskin tetanggaku, dan menyantuni anak yatim.

Sindiran apa yang kudapat, “Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar.”

Artinya, pikiranku, hartaku, tenagaku, itu bermanfaat bagi orang lain, tetapi akan mencelakakanku di akhirat karena tidak mendapat ridla Allah.

Benarkah amalku selama ini tidak diridhai Allah?

Aku terus mencari jawaban.

Ayat Al Mulk itu ternyata menjelaskan bahwa ahsan amalan (perbuatan terbaik) itu harus dilandasi dengan niat ikhlas dan cara yang benar berdasarkan tuntunan Rasulullah.

Aku lalu berpikir, apakah waktu menyumbang niatku ikhlas dan memperolehnya dengan benar?

Dari situlah aku belajar memahami surah Al-Fatihah, Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, segala puji bagi Allah Yang mengatur alam semesta.

Maknanya, tidak layak dipuji, tidak layak memuji selain Allah.

Sebagai artis, aku selalu ingin dipuji, selalu ingin memuja selain Allah.

Sedangkan orang yang ihsan itu Mukmin yang beribadah semata-mata hanya karena Allah.

Orang ikhlas itu selalu menutupi amal shalihnya sebagaimana ia menutupi keburukannya.

Seperti orang yang kentut tanpa suara, tetapi baunya ke mana-mana.

Pasti malu kalu dia ketahuan kentut.

Agar tidak ketahuan, dia pun akhirnya pura-pura tidak merasa kentut.

Jadi, kalau orang ikhlas itu amal shalihnya bila tercium orang lain pura-pura tidak tahu.

Kalau aku, saat itu, malah senang diberitakan di radio, televisi, dan koran.

Harusnya seperti orang yang kentut tadi, ia berharap agar baunya cepat-cepat hilang, bersyukur kalau tidak ada orang yang mengetahui kalau ia yang kentut.

Lantas, apakah harta yang kuperoleh itu dari jalan yang benar?

Pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku.

Ihdinashirathal mustaqiim, tunjukilah kami jalan yang lurus.

Jalan yang lurus itu sirathal ladziina an’amta ‘alaihim, jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yakni Nabi-Nabi dan para pengikut setianya.

Bukti sebagai pengikut setia itu ya tentu saja yang mengikuti Nabi Muhammad shalallahu alihi wa sallam.

Karena, tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang kubawa, begitu sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Apa yang Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam bawa? Yaitu Alquran dan Sunnah.

Yang kemudian diijtihad oleh para mujtahid dan diperkenalkanlah kepada kita sebagai syariah Islam dengan hukum yang lima itu, wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram.

Ghairil maghdhubi ‘alaihim, dan bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai.

Mengapa kaum Yahudi dimurkai, padahal mereka adalah orang-orang yang cerdas?

Ya karena kecerdasannya dipakai untuk merusak umat Islam.

Jadi, artis sebenarnya adalah ujung tombak Yahudi untuk menyebarkan paham setan, di antaranya adalah seks bebas dan sinkretisme agama.

”Jadi aku harus meninggalkan dunia artis ini?” tanyaku.

“Oh terserah Kang Hari, ente kan sudah paham tentang qadla dan qadar bahwa hidup itu pilihan,” ujar Syamsul.

Terus aku berdoa kepada Allah, “Ya Allah berikan aku kekuatan untuk mampu meninggalkan apa saja yang Engkau tidak sukai dan gantikanlah aktivitas kehidupanku ke aktivitas yang Engkau ridhai.”

Doa itu kupanjatkan di Padang Arafah ketika ibadah Haji awal tahun 1996.

Pulang naik haji, aku berubah total.

Tanpa ragu kutinggalkan dunia artis ketika kontrak sinetron dan iklan tinggal kutandatangani saja.

Bahkan, kontrak menyanyi yang sedang berlangsung kubatalkan karena aku paham, dunia artis itu banyak keharamannya.

Memang, hukum nyanyinya sih mubah, tetapi aktivitas lainnya yang terkait nyanyi banyak haramnya.

Aku baru naik panggung saja, para penonton sudah mabuk.

Campur baur laki-laki dan perempuan.

Aku nyanyi, yang nonton memujaku, jatuh syirik nantinya.

Si penyanyinya itu, tidak bisa dihilangkan dari rasa ingin dipuji, ujub namanya.

Itu yang aku rasakan.

Dua belas tahun aku sebagai artis dipuja-puja setan.

Ternyata, saat itu, aku juga setan. Astaghfirullah.

Satu setengah tahun sejak dialog di SMAK itu, aku baru ngeh bahwa ustaz muda itu adalah aktivis Hizbut Tahrir.

BACA JUGA: Pascaputusan PTUN, Yusril: Eksistensi HTI Tetap Diakui, Organisasi Terlarang Itu Cuma PKI

Selanjutnya, aku diminta bergabung berdakwah, berjuang bersama untuk menyadarkan umat agar mau menegakkan kembali institusi politik Islam, yakni Khilafah Islam.

Aku jawab, kenapa tidak dari dulu saja Tadz! []

 

Sumber: Wawancara Joko Prasetyo dengan Ustaz Hari Moekti tahun 2009 | Dimuat di tabloid Media Umat

 


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *