Unik, Informatif , Inspiratif

Menggunakan Nikmat Allah dengan Baik

0 138

Besantai, menghabiskan waktu sambil mendengarkan musik, atau menonton film favorit adalah hal yang paling menyenangkan bagi sebagian orang.

Mahasuci Allah yang telah memberikan nikmat pendengaran dan nikmat pengelihatan kepada kita, sehingga dengannya kita bisa melakukan dua kegiatan tersebut.

Namun, saudaraku, nikmat pendengaran dan pengelihatan yang Allah SWT berikan itu alangkah lebih baik kita gunakan untuk sesuatu yang membawa manfaat ibadah bagi kita, seperti mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an atau membaca buku-buku agama yang akan menambah ilmu untuk kita.

Sebabnya, adalah agar kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menambah rasa syukur kita.

قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

Ibnu Katsir menulis, “Allah SWT telah menciptakan kalian setelah sebelumnya kalian bukan apa-apa. Dia juga menganugerahkan akal dan pikiran. Tetapi semua pemberian itu sangat sedikit kalian gunakan untuk menjalankan perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.”

BACA JUGA: Inilah Sikap Orang yang Tidak Bersyukur

Ath-Thabari menafsirkan ayat ini dengan menyebutkan bahwa Rasulullah SAW disuruh oleh Allah SWT untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik yang mendustakan hari kebangkitan (hari kiamat), “Allah telah menciptakan kalian. Memberi kalian telinga hingga kalian bisa mendengar. Memberi kalian mata hingga kalian bisa melihat. Memberi kalian hati hingga kalian bisa memahami. Namun, sangat sedikit kalian mensyukuri semua nikmat itu.”

Nikmat Allah SWT kepada manusia tidak terhitung. Namun pada ayat 23 surah al-Mulk, ada empat hal yang Allah SWT sebutkan: nikmat penciptaan, nikmat mata untuk melihat, nikmat telinga untuk mendengar, dan nikmat hati tempat bersemayamnya emosi dan perasaan.

Anugerah empat jenis nikmat itu seharusnya disyukuri oleh manusia dengan beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Dalam proses penciptaan, manusia dibekali Allah SWT dengan beragam pancaindra. Biasanya hanya disebutkan fungsi indranya saja; seperti penyebutan as-sam’a (pendengaran), Allah SWT tidak menyebut al-udzuna (telinga); al-abshaara (penglihatan), Allah SWT tidak menyebut al-‘aina atau al-a’yun (mata); al-af’idata (hati nurani), Allah SWT tidak menyebut al-qalba (organ hati).

Penyebutan fungsi-fungsi pancaindra itu dikarenakan orang-orang kafir yang akan menjadi lawan bicara Rasulullah SAW adalah orang-orang yang memiliki semua pancaindra yang berfungsi dengan normal. Mata mereka bisa melihat, telinga mereka bisa mendengar, dan hati mereka bisa merasakan. Dengan semua kesempurnaan itu, mereka seharusnya bersyukur kepada Allah SWT dengan menerima ajakan Rasulullah SAW.

BACA JUGA: Syukuri Apa yang Ada, Ini Sebabnya

Tidak sedikit orang yang punya mata, tetapi mereka tidak bisa melihat karena cacat. Ada banyak orang yang mempunyai organ telinga, tetapi telinganya tidak berfungsi dengan biak, alias tuli (cacat). Punya hati tetapi tidak merasa, dan perbuatannya tidak mencerminkan dirinya sebagai manusia.

Mata yang bisa melihat dengan baik dan berfungsi normal adalah nikmat tiada tara; telinga yang bisa mendengar dengan baik juga merupakan nikmat yang lebih berharga dari apa pun; hati nurani yang masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk juga merupakan nikmat yang besar dari Allah SWT. Akan tetapi, orang-orang kafir itu tidak mau menerima ajakan Rasulullah SAW untuk taat kepada Allah SWT. Mereka menolak untuk beriman, bahkan menantang Rasulullah SAW dan mengancam akan membunuhnya.

Tindakan penolakan terhadap ajakan para nabi dikarenakan mata, telinga, dan hati mereka tidak difungsikan dengan baik. Orang-orang yang tidak memfungsikan mata dan pendengarannya dengan dengan baik diancam oleh Allah SWT dengan siksa yang pedih di neraka,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah); mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT); mereka mempunyai telinga, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan-hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah,” (QS. Al-Araf: 179).

Pada ayat ini, Allah SWT menyebutkan fungsi-fungsi indra itu secara lengkap dengan nama organnya: lahum quluubun laa yafqahuuna bihaa (mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami [ayat-ayat Allah]); lahum a’yaunun laa yubshiruuna bihaa (mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat [tanda-tanda kekuasaan Allah]); lahum aadzaanun laa yasma’uuna bihaa (mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar [ayat-ayat Allah]).

Setelah orang-orang kafir itu meninggal, mereka akan menjadi bahan bakar api neraka. Sebab, selama mereka hidup di dunia, mereka telah diberi hati untuk memahami kalimat-kalimat Allah dan perkataan nabi-Nya, tetapi hati mereka tidak dipergunakan untuk memahami. Mereka diberi mata untuk melihat, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat dan memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Mereka diberi telinga untuk mendengar, tetapi tidak digunakan untuk mendengarkan kebenaran dari-Nya. Allah SWT menyediakan neraka sebagai tempat kembali mereka, dan mereka kekal di dalamnya. []

Sumber: Kerajaan Al-Qur’an/Hudzaifah Ismail/Penerbit: Penerbit Almahira/2012

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline