meninggalkan maksiat
Foto: tasidola

Meninggalkan Maksiat Bukan Karena Allah, Apakah Berpahala?

Berdasarkan fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid, disimpulkan, ketika seseorang meninggalkan kemaksiatan, maka ia tidak lepas dari beberapa kondisi. Pertama, ia meninggalkan maksiat karena takut pada Allah. Maka berpahala perbuatan tersebut.

Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Qudsi,

“Dan apabila ia meninggalkannya –yaitu kemaksiatan– karena Aku niscaya Aku akan mencatatnya sebagai kebaikan..” (HR Bukhari 7501).

BACA JUGA: 5 Maksiat Ini Disegerakan Balasannya di Akhir Zaman!

Kedua, ia meninggalkan kemaksiatan karena ingin dilihat oleh manusia dan mencari pujian dari mereka. Maka atas perbuatasn tersebut, ia tidak mendapatkan pahala. Bahkan malah mendapat dosa. Dikarenakan menginggalkan kemaksiatan ialah suatu ibadah dan tidak boleh dilakukan kecuali hanya karena Allah semata.

Ibn Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan, “Adapun apabila seseorang bertekad untuk bermaksiat kemudian ia meninggalkannya karena takut ketahuan manusia, atau karena riya’ di hadapan manusia, maka dikatakan, ‘Bahwasanya ia berdosa dengan perbuatan meninggalkan kemaksiatan tersebut karena niatnya, karena ia mendahulukan manusia daripada karena takut pada Allah. Sebagaimana mengerjakan ibadah karena riya’ kepada manusia adalah haram, maka begitu pula meninggalkan kemaksiatan karena manusia pun berdosa” (selesai nukilan dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam 2/321).

Ketiga, ia meninggalkan kemaksiatan karena malu kepada manusia. Maka ini tidaklah berdosa. Akan tetapi ia mendapat pahala apabila ia memiliki tujuan syar’i yang dicintai Allah Ta’ala. Misalnya ia meninggalkan maksiat karena takut dicela oleh kalangan da’i dan pemuka agama di tempat itu.

Keempat, meninggalkan maksiat karena semata-mata tidak mau mengerjakannya, bukan karena takut pada Allah atau faktor dari manusia lain. Maka ia tidak mendapatkan pahala, juga tidak berdosa.

Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan, “Adapun apabila ia meninggalkan maksiat karena takut pada Allah maka akan dicatat oleh Allah sebagai kebaikan sempurna. Berdasarkan hadits,

“Catatlah ia sebagai kebaikan karena sesungguhnya ia meninggalkan (maksiat) karena Aku”.

Adapun apabila ia meninggalkan maksiat karena faktor lain, maka tidak tercatat sebagai dosa, sebagaimana dalam hadits lain,

BACA JUGA: Banyak Orang Maksiat, Setan Kendalikan Manusia?

“Apabila ia tidak mengerjakannya maka tidak ada catatan atasnya”

-selesai nukilan dari Majmu’ Al Fatawa 10/738

Adapun apabila ia meniatkan dalam shalatnya, mayoritas niatnya adalah mencari keridhaan Allah, kemudian juga mencari keridhaan orangtuanya, maka shalatnya diterima insya Allah.

Wallahu a’lam. []

SUMBER: ISLAMQA


Artikel Terkait :

About Dini Koswarini

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *