dosa bagi pelakor
Foto: iStock

Menjatuhkan Talak dalam Keadaan Marah, Apa Hukumnya?

Menurut Wahbah Zuhaili, marah (ghadhab) ada dua. Pertama, marah biasa yang tak sampai menghilangkan kesadaran atau akal sehingga orang masih menyadari ucapan atau tindakannya. 

Kedua, marah yang sangat yang menghilangkan kesadaran atau akal sehingga seseorang tak menyadari lagi ucapan atau tindakannya atau marah sedemikian rupa sehingga orang mengalami kekacauan dalam ucapan dan tindakannya. (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343)

Para fukaha sepakat jika suami menjatuhkan talak dalam keadaan marah yang sangat (kategori kedua), talaknya tidak jatuh.

BACA JUGA: Ucapan Suami kepada Istri: ‘Pulang Saja Kamu ke Rumah Orang Tuamu!’ Apakah Jatuh Talak?

Pasalnya, ia dianggap bukan mukallaf karena hilang akalnya (za`il al-aql), seperti orang tidur atau gila yang ucapannya tak bernilai hukum.

Dalilnya sabda Nabi shalallahu alaihi wa sallam:

“Diangkat pena (taklif) dari umatku tiga golongan: anak kecil hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga waras.” (HR Abu Dawud no 4398). (Ibnul Qayyim, Zadul Ma’ad, 5/215; Sayyid Al-Bakri, I’anah al-Thalibin, 4/5; Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 9/343; Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 29/9).

Namun, fukaha berbeda pendapat mengenai talak yang diucapkan dalam keadaan marah biasa (thalaq al-ghadbaan).

Pertama, menurut ulama mazhab Hanafi dan sebagian ulama mazhab Hambali talak seperti itu tak jatuh.

Kedua, menurut ulama mazhab Maliki, Hambali, dan Syafi’i, talaknya jatuh. (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 19; Ibnul Qayyim, Ighatsatul Lahfan fi Hukm Thalaq al-Ghadban, hal. 61).

Pendapat pertama antara lain berdalil dengan hadits Aisyah r.a. bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tak ada talak dan pembebasan budak dalam keadaan marah (laa thalaqa wa laa ‘ataqa fi ighlaq).” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah). (Musthofa Al-‘Adawi, Ahkam Al-Thalaq fi al-Syari’ah al-Islamiyah, hal. 61).

Pendapat kedua antara lain berdalil dengan riwayat Mujahid, bahwa Ibnu Abbas r.a. didatangi seorang lelaki yang berkata, “Saya telah menjatuhkan talak tiga kali pada isteriku dalam keadaan marah.” Ibnu Abbas menjawab, “Aku tak bisa menghalalkan untukmu apa yang diharamkan Allah. Kamu telah mendurhakai Allah dan isterimu telah haram bagimu.” (HR Daruquthni, 4/34). (Hani Abdullah Jubair, Thalaq al-Mukrah wa al-Ghadbaan, hal. 24).

Menurut kami, yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua, yakni talak oleh suami dalam keadaan marah tetap jatuh talaknya.

Alasannya, hadis Aisyah r.a. meski menyebut talak orang yang marah tak jatuh, tetapi yang dimaksud sebenarnya bukan sekadar marah (marah biasa), melainkan marah yang sangat.

Imam Syaukani menukilkan perkataan Ibnu Sayyid bahwa kalau marah dalam hadis itu diartikan marah biasa, tentu tidak tepat. Pasalnya, mana ada suami yang menjatuhkan talak tanpa marah. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hal. 1335)

Kesimpulannya, suami yang menjatuhkan talak dalam keadaan marah dianggap tetap jatuh talaknya.

BACA JUGA: Wanita Ini Ditalak Suaminya Karena Bagikan Foto Makanan di SnapChat, Ko Bisa?

Alasannya, kondisi marah tidak memengaruhi keabsahan tasharruf (tindakan hukum) yang dilakukannya, termasuk mengucapkan talak.

Namun, jika kemarahannya mencapai derajat marah yang sangat, talaknya tidak jatuh.

Wallahualam bishawab. []

 

 

Sumber: KonsultasiIslam


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

setan

Kulit Membiru karena Dicubit Setan, Benarkah?

Hal ini disebabkan karna penggumpalan darah akibat pecahnya dinding pembuluh darah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *