Foto: Shutterstock

Menuju Keutamaan Budi dan Otak

Disinggung di muka, bahwa kesempurnaan ibadah kepada Allah hanya akan dirasakan setelah mencapai kesempurnaan otak dan budi.

Ada orang berkata: Kebenaran itu pahit, kejahatan manis; menapaki langit keutamaan amat sukar, turun ke juran mudah!

Hal tersebut yang dibilang hanya bagi orang yang tak terdidik oleh budi atau perangai yang utama. Kalaulah telah terdidik, betapapun susahnya akan dipatuhi dan tunduk semenjak kecil. Tuhan telah berfirman, ”Sembahyang itu amat berat dikerjakan, kecuali oleh orang yang khusyu’!”

Dengan keutamaan otak, berpikir dan penyelidikan yang panjang segala yang ditemukan akan—dirasa—mengandung hikmah dan pelajaran serta lebih melekat di dalam jiwa. Manakah kebaikan yang jika diperbuat dan apakah celaka batin yang telah menimpa diri?!

Mari kita biasakan keduanya, laksana tukang jahit yang tenang memutar mesinnya karena telah menjadi pekerjaan biasa, atau tukang bangunan yang mengangkat dan membangun tembok sambil bernyanyi meski di bawah panas sinar mentari karena itulah pencahariannya.

Keutamaan otak dan budi didapatkan dengan dua (2) macam ikhtiar:

  1. Ikhtiar pikiran
  2. Ikhtiar kerja

Untuk mencapai keduanya adalah dengan:

  1. Dipelajari
  2. Diusahakan

Setelah keduanya, maka ia pun dapat brebuat pada waktu percobaan, perasaan, penanggungan dan pengalaman. Setelah itu, maka keutamaan pun akan teguhlah uratnya (QS. Ibrahim [14]: 24-26).

Referensi: Prof HAMKA. Tasawuf Modern. 2015. Jakarta: Republika Penerbit. Hal 136-138


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *