menyerah, Menyerah
Unik, Informatif , Inspiratif

Menyerah

0

Oleh: Saad Saefullah

For more than 25 years, saya menulis. Tulisan pertama saya yang serius adalah sebuah cerpen, saya kirim ke Majalah Annida di tahun 1995, bulan Januari akhir. Ditolak. Sebuah surat datang (dulu mah pake surat, ga ada imel). Tapi di bawah surat, ada satu kalimat dari redaksinya, “Kami tunggu tulisan Anda berikutnya.”

2 pekan selanjutnya, saya kirim 1 cerpen lagi. Ditolak juga. Kali ini, tulisan “Kami tunggu tulisan Anda berikutnya.” di akhir surat, ga banyak lagi artinya buat saya. I was talking to myself: menulis is not for me. Giving up.

Tapi Mei 1995, cerpen ketiga saya mendapat balasan. Satu wesel. Isinya 125 ribu yang dikonversi rupiah ke kantor pos. Dag dig dug. Itulah honor pertama saya dari menulis. Saya belikan 2 buah kaos di Pasar Rebo, ngasih uang belanja selama 1 pekan ke keluarga, kemudian beli formulir UMPTN di Bandung. Nitip ke sohib semasa SMP yang otaknya kayak Google di zaman now.

Jadi, begitulah. Nasib membawa saya untuk terus menulis. Sampe punya 3 orang anak. Sampe ngubek-ngubek sebagian daerah di Indonesia, sempet ke negeri orang, juga karena menulis. Ketemu banyak orang hebat.

Jauh dari tahun 1995, saya merenung, seandainya pada cerpen kedua itu, saya bener-bener menyerah, I don’t know what I’d be. Betul kata meme atau poster inspirasi yang banyak bertebaran di medsos: Salah bisa diperbaiki. Gagal bisa diulangi. Jatuh bisa bangun. Tapi, menyerah berarti selesai.

Hidup itu berjuang. Jangan pernah menyerah. Sesulit apapun keadaanmu, menyerah jangan pernah jadi opsi. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.