Unik, Informatif , Inspiratif

Meski di Pesisir Pantai, Kampung Ini Tak Tergerus Tsunami Selat Sunda

0

Kampung Cipanon, salah satu kampung yang tak dihampiri oleh tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) malam, meskipun berada di bibir pantai.

Lokasi kampung Cipanon masih satu desa dengan Tanjung Lesung Resort di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Pandeglang. 2,6 kilometer dari pesisir.

BACA JUGA: Cerita Manager Wisata Tanjung Lesung yang Selamat dari Tsunami

Seperti dilansir Republika Rabu (26/12/2018), banyak bangunan semi permanen berdindingkan bilik bambu yang berada di bibir pantai kampung ini masih utuh tegak berdiri.

Imas Masliah (45 tahun) salah satu pemilik warung di pesisir pantai itu mengatakan kondisi kampung tempatnya membuka usaha ini selamat dari bencana tersebut. Meskipun, kata dia, warga sempat panik dan melarikan diri ke bukit yang berada di seberang pantai.

“Kita semua panik, lari ke atas, gelap nggak ada lampu, kan di atas mah cuma kebun aja, hutan-hutan gitu,” kata Imas di lokasi, Rabu (26/12/2018).

Imas mengaku bertahan sampai pagi di tempat itu dalam gelap dan hujan bersama warga lainnya. Beruntung, ketika menengok warung rumah makannya, tak ada yang berubah sejak ia tinggalkan. “Nggak tahu kenapa, nggak naek airnya,” kata Imas.

Kata ketua RW sejak zaman Soeharto

Sementara itu, Markasim ketua RW 05 Kampung Cipanon, Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang mengatakan, entah sebab apa, kampungnya selalu aman dari bencana. “Alhamdulillah di sini mah,” kata ketua RW yang menjabat sejak zaman presiden Soeharto itu.

Dia mengatakan, kepala desa setempat tidak ingin dirinya diturunkan. “Kata pak kades jangan diganti, biar saya aja yang jadi RW, katanya mah biar aman, nggak tahu saya juga kenapa,” tuturnya saat ditemui di Masjid Nur-Assyfa, Kampung Cipanon tak jauh dari bibir pantai.

BACA JUGA: 8 Orang Warga Negara Asing Tersesat di Pesisir Banten

Namun, Markasim mengatakan, dari 170 orang KK yang ada di RW 05, ada satu orang yang meninggal. Yaitu, Rahmah (55 tahun). Dia meninggal bukan karena terdampak tsunami tetapi karena kaget melihat banyaknya orang yang beramai-ramai lari ke arah rumahnya.

Meski demikian, Markasim menyatakan warga sampai sekarang masih mengungsi. Ini karena kekhawatiran akan munculnya tsunami yang bisa menerjang perkampungan itu. []

SUMBER: REPUBLIKA


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.