abbad bin bisyr (foto: kisahislam)

Mimpi Abbad bin Bisyr Jelang Ajalnya, Pemecah Dua Pasukan

abbad bin bisyr (foto: kisahislam)

INSPIRADATA. Di masa kekhlaifahan Abu Bakar, dalam perang Yamamah memberantas para murtad golongan Musailamah al-Kadzdzab, Abbad bin Bisyr pun menjadi pelopor perjuangan dan persatuan dalam tentara Muslim.

Dalam perhatiannya di pertempuran, Abbad berpedapat bahwa kaum Muslimin tak akan meraih kemenangan karena Muhajirin dan Anshar saling menyerahkan urusan dengan tak ada kepastian.

Bahkan mereka saling mencela dan membenci. Kemenangan akan teraih jika Anshar dan Muhajirin membentuk pasukan masing-masing dengan tanggung jawab masing-masing pula, agar lebih jelas kepejuangannya.

Sebelum pertempuran dimulai, Abbad bermimpi dalam tidurnya, seolah ia melihat langit dalam keadaan terbuka. Ia pun memasukinya, dan menguncinya. Ketika subuh tiba, Abbad menceritakan mimpinya tersebut kepada Abu Sa’id al-Khudri. “Demi Allah, itu seperti benar-benar kehjadian, hai Abu Said,” Kata Abbad.

BACA JUGA
7 Panglima Hebat dalam Sejarah Islam
Abbad bin Bisyr, Tak Putus Munajat, Meski Panah Menghujam (1)

Perang pun berlangsung, Abbad naik ke suatu bukit kecil dan berteriak, “hai kaum Anshar, berpisahlah kalian dari tentara yang banyak itu! Pecahkan sarung pedang kalian! Jangan tinggalkan Islam terhina atau tenggelam, niscaya bencana akan menimpa kalian!”

Abbad mengulang esruannya, sehingga sekitar empat ratus prejurit berkumpul menujunya. Di antara pasukan tersebut adalah Tsabit bin Qais, Al-Barra bin Malik, dan Abu Dujanah, sang pemegang pedang Rasulullah.

Abbad dan pasukannya pun memecah pasukan musuh. Kemunculanny memukul mundur pasukan Musailamah ke kebun Maut. Di sana lah dekat tembok kebun tersebut Abbad syahid dengan lencana luka perang di tubuhnya. []

Referensi:
Bastoni, Hepi Andi. 2004. 101 Sahabat Nabi. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *