Unik, Informatif , Inspiratif

Misteri dan Nilai Filosofi di Balik Keramik Plered

0 30

Keramik di Plered, kabupaten Purwakarta, Jawa Barat terkenal. Staf Litbang sekaligus seniman keramik di daerah itu tengah menjelaskan tentang proses pembuatan keramiknya kepada pengunjung.

Yang menarik, di tempat yang berada di Jalan Raya Anjun itu dia tidak saja menerangkan soal produksi serta ekspor yang didasari angka-angka. Lebih dari itu, yakni soal nilai kebijaksanaan yang terkandung dalam sebuah keramik sebagai pesan para karuhun (leluhur).

BACA JUGA: Ada Simping, Purwakarta Bukan Hanya Sate Maranggi

Nilai-nilai filosifis bahkan mistis itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta keramik mancanegara terhadap seni gerabah di Plered itu.

“Kami ini mengolah empat unsur alam, yakni tanah, api, air dan angin. Keempat unsur itu menyatu dalam sebuah keramik. Ketika kita mengolah tanah dengan sentuhan-sentuhan tangan, secara tidak disadari telah digiring pada sebuah pemaknaan akan hakikat dari mana kita berasal dan mau kemana kita pergi,” ungkap staf Litbang yang bernama Jujun.

Manusia, terang dia, berasal dari tanah dan hidup pun di atas tanah dan mati juga dikubur di dalam tanah. Sehingga tanah memiliki peran cukup dominan siklus kehidupan.

“Memaknai tanah dengan benar, maka dengan sendirinya akan mengikis sifat-sifat sombong. Kesombongan itulah yang menjadi biang keladi munculnya keserakahan, pengrusakan serta hilangnya manusia dari kemanusiaannya,” katanya.

BACA JUGA: Maranggi, Sate Khas Purwakarta yang Mendunia

Menurutnya, rasa menjadi dominan ketika kita menyentuh tanah liat dan diolah menjadi sebuah karya seni. Ketika rasa cinta itu menjadi motivasi, maka produk yang dihasilkan pun akan diterima oleh rasa pula. Sehingga keramik plered memberikan sentuhan-sentuhan cinta kepada siapa pun.

“Pesan cinta itu yang harus tetap disampaikan melalui warna dan goresan tangan sebuah keramik,” ujar dia.

Dia pun menerangkan, banyak perajin yang tetap mempertahankan tradisi karuhun dalam prosesi pembuatan keramik. Misalnya, dilakukan sejumlah ritual terlebih dahulu sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap mahluk Allah SWT, yaitu tanah. Bahkan, seorang perajin tidak boleh berhubungan badan sekali pun dengan isterinya sendiri saat menjelang pembuatan keramik.

BACA JUGA: Perjalanan Panjang Mangkuk Ayam Jago Merah yang Legendaris

Percaya atau tidak, ketika larangan itu dilanggar, faktanya pembuatan keramik acapkali gagal. Banyak pantangan dan kewajiban yang bersifat kearifan lokal dalam pembuatan keramik Plered. Semuanya melekat dan kebiasaan masyarakat melaksanakan semua kewajiban dan mematuhi pantangan itu.

“Ada satu perajin keramik yang sudah tua, semua prosesi ritual itu dia pertahankan. Faktanya, meski pun hanya membuat cobek untuk pasar lokal, hasilnya sangat berkah. Berbeda dengan pengusaha besar harus bangkrut gara-gara tidak mematuhi kewajiban dan pantangan yang sudah menjadi kebiasaan dalam proses pembuatan keramik,” pungkasnya. []

SUMBER: SINDO

Artikel Terkait :

loading...

Kamu Sedang Offline