Napoleon dan Mesir, Studi Awal Orientalisme Bergerak

Edward Said, seorang orientalis kelahiran Palestina dan Profesor Columbia University menyebutkan bahwa abad ke-18 adalah tonggak awal dari gerakan orientalisme. 1798 lalu, Napoleon Bonaparte menginvasi Mesir dengan kekuatan militer yang ditemani cendekiawan akademis terpilih.

Daya tarik Mesir bagi Napoleon, lantaran negeri mayoritas Muslim itu menyimpan khazanah bahasa, budaya, dan agama yang, menurutnya, patut diketahui orang Eropa (Barat).

Lantaran invasi Napoleon pula, dunia Islam khususnya Mesir yang kala itu masih ortodoks Islam mulai mengenal perkembangan teknologi Eropa serta nilai-nilai liberal yang cenderung netral agama.

Beberapa sejarawan mempertimbangkan abad ke-18 sebagai akhir pengaruh misionaris Kristen terhadap studi keislaman. Sejak memasuki abad ke-19, interaksi antara umat Kristen dan Islam lebih didasarkan relasi dagang atau po litik, yang timpang, alih-alih dibingkai da lam pemahaman agama-agama itu sendiri.

Namun, tulisan-tulisan orientalis masih diwarnai stigma terhadap Islam atau sosok Nabi Muhammad SAW. Di sisi lain, Kristen Eropa mengalami tantangan dari sekularisme yang hendak menying kirkan dasar agama dari ruang publik, termasuk di bidang akademik.

Mulai dari paruh kedua abad ke-19 hingga awal abad ke-20, studi keislaman masuk ke dalam kajian ilmu perbandingan agama-agama (Religionswissen schaft). Filologi atau studi atas naskah dan teks lama masih menjadi dasar ber pijaknya. []

Sumber: Republika


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Obbie Mesakh, Raja Pop 80-an

Hampir semua artis yang ia orbitkan berhasil menjual lebih dari 400.000 keping CD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *