Unik, Informatif , Inspiratif

Nelayan dan Guru Bahasa yang Congkak

0

DI sebuah desa tinggal seorang guru bahasa. Di desa itu, dia adalah guru bahasa satu-satunya. Kepandaiannya terkenal di mana-mana. Setiap hari, guru bahasa itu mengajar anak-anak di desanya.

Semua muridnya pun berhasil menguasai bahasa yang diajarkan.

Suatu hari, guru bahasa dipanggil oleh desa tetangga. Ia diminta untuk mengajar di sana.

Guru bahasa pun setuju. Ia langsung mengatur jadwal mengajarnya, agar dua desa itu tetap bisa diajarnya.

BACA JUGA: 3 Sifat Sombong Dalam Diri Manusia

Hari ini adalah hari pertama guru bahasa mengajar di desa tetangga. Ia harus menyeberangi lautan untuk sampai ke desa tetangga.

Beruntung, ada nelayan di sana. Dengan senang hati, nelayan itu memberikan tumpangan kepada sang guru bahasa.

Sambil menyeberangi lautan, mereka bercerita banyak. Mulai dari pekerjaan, sampai keluarga. Namun, berbkara dengan nelayan membuat guru bahasa prihatin.

Ia menggunakan bahasa yang teratur, sedangkan nelayan menggunakan bahasa yang berantakan.

Ingin rasanya mengajari nelayan, pikir guru bahasa.

“Wahai, nelayan. Menurutmu, bagaimana cuaca hari ini?” tanya guru bahasa.

“Hari ini tampaknya nanti cuaca hujan akan turun,” jawab nelayan.

“Nelayan, dari tadi engkau selalu menggunakan bahasa yang rancu. Harusnya engkau belajar bahasa seperti anak-anak di desa. Belajar bahasa amat penting,” ucap guru bahasa.

“Aku tidak peduli dengan bahasa yang kugunakan. Coba aku tanya. Semenjak tadi engkau bicara padaku, apakah kamu mengerti maksudku?” tanya nelayan.

Guru bahasa mengangguk.

“Kalau engkau mengerti, itu sudah cukup,” lanjut nelayan.

“Tapi, engkau akan rugi bila tak belajar bahasa.” Guru bahasa tetap dengan pendiriannya.

Mendengar ucapan guru bahasa, nelayan tersinggung. Nelayan merasa jika ia telah dipermalukan. Bagimana ia belajar bahasa, sementara sepanjang hari ia harus bekerja di laut. Bila ia tak melaut, mau makan apa anak dan istrinya.

“Sombong benar guru bahasa ini,” pikir nelayan.

Tak lama setelah itu, hujan turun. Munculah ide di benak nelayan.

“Wahai, guru bahasa. Apakah engkau bisa berenang?” tanya nelayan.

BACA JUGA: Sombong atas Ilmu, Harta, dan Kekuasaan

“Apa untungnya belajar berenang bagiku?” jawab guru bahasa, tak peduli.

“Jika engkau tidak bisa berenang, maka engkau akan rugi. Hujan turun lebat, dan sebentar lagi air naik. Bila air naik, kapal akan tenggelam. Apa yang akan terjadi kepadamu jika kapal tenggelam?” Nelayan kembali bertanya.

Mendengar penjelasan dari nelayan, guru bahasa menjadi panik. Ia tak bisa berenang. Jika benar kapal tenggelam, maka ia akan ikut tenggelam. Saat itulah, guru bahasa menyadari, bahwa semua pelajaran sama pentingnya. []

SUMBER: DONGENG CERITA RAKYAT


Artikel Terkait :
Comments
Loading...

Kamu Sedang Offline