Unik, Informatif , Inspiratif

Nikah setelah Hamil Sebelumnya, Apa Hukumnya?

0

 

Hamil di luar nikah itu kerap disepelekan oleh sebagian orang. Bahkan, haram hukumnya seorang muslim menikahi wanita yang sedang mengandung. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina)”

“Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Adapun bila si wanita yang hamil itu dinikahi oleh laki-laki yang menghamilinya di luar nikah, maka umumnya para ulama membolehkannya, dengan beberapa variaasi detail pendapat :

1. Pendapat Imam Abu Hanifah

Beliau mengatakan, jika laki-laki yang menghamili si wanita lalu menikahinya hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan untuk menikah sampai si anak terlahir.

2. Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Beliau mengatakan, laki-laki yang tidak menghamili tidak boleh mengawini wanita yang hamil. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa ‘iddahnya. Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. Jika masih belum bertobat dari dosa zina, maka dia masih boleh menikah dengan siapapun. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu’Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawami, jus XVI halaman 253.

3. Pendapat Imam Asy-Syafi’i

Beliau mengatakan bahwa laki-laki yang menghamili ataupun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahninya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi jus II halaman 43.

Bahkan dari Aisyah ra berkata, Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda, “Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal.” (HR Tabhrany dan Daruquthuny)

Seorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Isteriku ini seorang yang suka berzina.” Beliau menjawab, “Ceraikan dia.” Lalu orang itu menjawab “Tapi aku takut memberatkan diriku.” “Kalau begitu mut’ahilah dia.” (HR Abu Daud dan An-Nasa’i) []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.