Unik, Informatif , Inspiratif

Nyinyiran Netizen Soal “Melacur Agama”, Ini Tanggapan Gus Miftah

0

Belakangan Ini Gus Miftah dikenal menjadi viral di media sosial. Semua berawal dari tersebarnya video Gus Miftah yang tidak biasa dengan cara berdakwahnya, yaitu mengajak para pekerja hiburan malam untuk bertakbir.

BACA JUGA: Pandangan 2 Sisi Terkait Ceramah Gus Miftah di Klub Malam

Tak Perlu waktu lama hal itu menjadi pro dan kontra. Sehingga menimbulkan berbagai komentar dari dua sisi padangan.

Namun, menurut pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji Tundan Jogjakarta, Gus Miftah Maulana Habiburrohman hal itutidka jadi masalah baginya, jika diantara mereka ada yang tidak setuju dengan caranya berdakwah.

Menurutnya, dakwah juga berhak didapat para pekerja hiburan malam dan setiap ustaz punya cara berdakwah dan kelebihan masing-masing.

“Saya berusaha menyampaikan dakwah ini dengan cara seperti ini, ini cara saya, ini metode saya. Saya ingin berbagi dengan mereka yang juga membutuhkan Tuhan,” katanya.

Tapi, Gus Miftah merasa ada hal yang paling menyakitkan, yaitu nyinyiran nitizen yang menuding dia melacur agama karena menerima amplop tebal saat berdakwah di klub malam.

“Jadi bagi saya, dari semua sindirian dan nyinyiran nitizen itu, bagi saya yang paling menyakitkan adalah saya dianggap melacur agama. Saya mau ngaji di tempat begitu karena ada amplop yang tebal. Saya tegaskan, saya tidak menerima apapun,” kata Gus Miftah kepada tvOne, Kamis 13 September 2018.

Dia juga menegaskan bahwa kepergiannya ke Bali menggunakan biaya sendiri, dari mulai tiket pesawat hingga sewa hotel. Dia datang dengan sukarela dan tidak menerima bayaran dari dakwahnya itu.

Bahkan saat melakukan dakwah di lokalisasi Sarkem Jogja, Gus Miftah justru membawa konsumsi, tak lupa juga alat perlengkapan ibadah, mukena dan sajadah sendiri agar bisa digunakan untuk wanita pekerja malam di tempat itu.

“Kalau melakukan dakwah di lokalisasi Sarkem Jogja, itu konsumsi, mereka butuh mukena, butuh sajadah, itu saya bawakan. Jadi tidak ada urusan apapun dengan persoalan uang dan amplop,” katanya.

BACA JUGA: Ikut Hijrah dari Gaya Dakwah Konvensional ke Milenial

Mengenai metode dakwahnya ini, Gus Miftah telah meminta fatwa dan petunjuk dari gurunya di Pekalongan, Jawa Tengah, yaitu Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Saat bertemu, dia hanya diminta untuk tetap menjaga niatnya.

“Setelah lama ngaji di cafe, tempat prostitusi itu, saya tanya, saya minta fatwa, minta petunjuk dari Habib Luthfi. Waktu itu saya matur ke kediaman beliau. Beliau menjawab, kalau yang bisa melakukan itu saya, jadi teruskan saja, tidak apa-apa. Tapi yang penting adalah menjaga niat,” katanya. []

SUMBER: MSN | VIVA


Artikel Terkait :
Comments
Loading...

Kamu Sedang Offline