Pejuang Berkursi Roda Itu pun Syahid di Tengah Kegembiraan Israel atas Penjajahan Al-Quds

0

Fadi Abu Salah adalah satu di antara sekian banyak sosok pejuang Palestina yang kisah hidup dan perjuangannya mampu menginspirasi banyak orang. Belum genap usianya dua puluh tahun, ia sudah harus kehilangan kedua kakinya akibat serangan pasukan penjajah Israel yang membakar rumah-rumah penduduk, termasuk rumahnya kala itu.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 2008 silam. Saat itu pasukan zionis Israel menyerang rumah-rumah penduduk sipil di Jalur Gaza.

Alhasil, banyak korban jatuh, baik gugur maupun luka-luka.

Walau begitu, kecacatan tidak membuat Fadi Abu Salah kehilangan seglanya.

Ia tetap melanjutkan hidup meski harus di atas kusri roda dan terus berinteraksi dengan masyarakat.

Foto: Aljazeera

Bahkan, kondisinya tidak menyurutkan niatnya untuk menuntut kesyahidan pada musim-musim perjuangan.

Abu Salah tetap menjalankan hidup seperti lumrahnya manusia.

Ia menikah dan memiliki anak. Selain itu, ia juga berusaha agar punya tempat khusus di hati masyarakat Gaza khususnya.

Dalam situasi perjuangan, banyak orang yang dengan semangat menggerakkan kursi roda Abu Salah.

Hal itu membuatnya merangsek maju ke hadapan pasukan zionis yang bersenjata lengkap.

Namun, perjuangan itu harus berakhir pada Senin (14/5/18) kemarin.

Tubuh kurusnya terkena peluru pasukan Israel dan membuatnya gugur di medan pertempuran.

Ia syahid bersama dengan 55 orang lainnya.

Foto: Aljazeera

Tubuhnya berlumuran darah, seperti ribuan korban luka lainnya.

Ia gugur di tengah kelalaian dunia.

Ia gugur saat Israel merayakan 70 tahun perampasan atas tanah Palestina.

Abu Salah gugur di saat Israel bergembira dengan peresmian Kedubes AS di Al-Quds.

Di satu sisi, orang-orang Yahudi bersukacita dengan perolehan mereka atas Al-Quds.

Di sisi lain, warga Palestina terus menyuarakan penolakan.

Mereka seakan menyeru dunia: Kami layak untuk hidup di bumi ini sebagaimana kami berhak menentang kematian.

Akhirnya, Menteri Pertahanan Zionis Avigdor Lieberman memberi perintah untuk menembak warga Palestina yang mendekati perbatasan Gaza.

Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat Fadi Abu Salah.

Ia menembus kerumunan dan menjemput kematian dalam demonstrasi damai walau Israel berusaha mengubahnya jadi pemakaman massal.

Menurut Hamzah Abu Salah, saudaranya adalah seorang suami dengan lima orang anak.

Anaknya paling besar masih berusia 7 tahun.

Abu Salah mengikuti Pawai Kepulangan dengan penuh semangat dari Khan Yunis.

Jika pembantaian terhadap massa aksi dapat dipahami dunia, gugurnya Abu Salah dapat dilihat dari dua sudut pandang.

Pertama tentang perlawanan Palestina dan kedua tentang mental pembunuh yang dimiliki Israel.

Tentu Abu Salah bukan satu-satunya penjuang berkursi roda.

Telah banyak dari mereka yang menjadikan kursi roda sebagai pengantar ke keabadian bersama para syuhada Palestina lainnya. []

Sumber: dakwatuna

Kamu Sedang Offline