Pembagian Zakat yang Malah Merendahkan Kemiskinan

0

Beberapa waktu lalu, pembagian zakat yang dianggap sebagai berderma kebaikan malah menyisakan petaka dan “kehinaan”. Hal tersebut karena memperlihatkan kerendahan orang-orang yang sangat membutuhkan (baca: fakir miskin) di pandangan umum.

Seperti dilansir Halalifestyle, ada kejadian yang terjadi di Pasuruan, Jawa Timur pada 2008. Ada seorang dermawan yang mengumpulkan banyak warga miskin untuk disantuni. Namun karena terlalu berdesak-desakan, niat mulia orang tersebut harus berujung dengan petaka, yakni meninggalnya 21 orang calon penerima sedekah.

Baca Juga: Zakat Profesi, Wajibkah?

Selain bisa berakibat buruk, ternyata pembagian zakat secara langsung, juga tanpa disadari telah merendahkan martabat orang miskin. B

ahkan menurut Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam M Fuad Nasar, itu merupakan salah satu praktik mempertontonkan kemiskinan.

Mewakili Kementerian Agama (Kemenag), Fuad mengajak segenap dermawan untuk menyalurkan infaq sedekahnya lewat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Tidak dibagikan secara langsung kepada penerima sedekah.

Menurutnya, orang yang berzakat dan orang yang menerima tidak harus bertemu langsung. Pembayar zakat (muzaki) bisa merekomendasikan daftar nama penerima zakat yang diinginkan kepada organisasi pengelola zakat.

Pembagian zakat secara langsung dianggap tidak menyelesaikan masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial. Malah justru menambah orang yang merasa miskin, lantaran dipancing dengan adanya pembagian zakat secara massal.

“Tidak seharusnya menyuburkan mental miskin dan menadahkan tangan secara terbuka di tengah masyarakat. Orang miskin seyogyanya dibantu untuk bisa menjaga martabat dan nilai luhur kemanusiaannya sesuai dengan nilai moral yang diajarkan agama,” kata Fuad. []

Sumber: Halalifestyle | Kemenag

Kamu Sedang Offline