Pemilik Warung Sedekah Berbagi Tak Akan Kurangi Rezeki
Pemilik Warung Sedekah Berbagi Tak Akan Kurangi Rezeki

Pemilik Warung Sedekah: Berbagi Tak Akan Kurangi Rezeki

INSPIRADATA. Edi Sumaryanto (40) pemilik warung sedekah Yu Jilah, menggratiskan menu sahur di warung gudegnya yang terletak di Jalan Parangtritis No 88, RT 53 RW 14, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta. Demikian disitat dari Detik, Kamis (1/6/2017).

“Bersedekah itu tidak akan mengurangi rejeki kita,” ujar Edi.

Edi mengatakan bahwa dia sudah membuktikannya sendiri, dengan mensedekahkan sejumlah uang ke panti asuhan, padahal di waktu bersamaan anaknya butuh biaya asuransi pendidikan. Berbekal keyakinan itu, dia memilih membantu panti.

“Dulu saya juga bukan orang baik-baik amat, pernah diungsikan orangtua,” ungkapnya.

Waktu itu Edi masih remaja dan ayahnya meninggal dunia. Tak siap dengan kehilangan tersebut, dia sempat menganggap Tuhan tidak adil memperlakukan dirinya.

Edi kemudian terjerumus pergaulan bebas, pernah ikut geng, ikut tawur-tawuran, minum-minuman keras, sampai pernah jualan togel.

“Itu pas zaman edan,” cerita Edi.

Setelah dikirim keluarga ke Kabupaten Karangasem, Bali, Edi remaja tinggal di perkampungan Arab dan India yang mayoritas muslim. Di sana dia digembeleng agar menjadi muslim yang bertanggung jawab.

Dia masih ingat, saat diungsikan ke Bali sekitar tahun 1994, Edi masih duduk kelas 1 SMA. Setelah beberapa waktu akhirnya dia balik ke Yogyakarta, melanjutkan studi di Akademi Manajemen Putra Jaya Yogyakarta, mengambil jurusan menejemen dan lulus tahun 2000.

Setelah lulus dan menikah, hidup Edi berubah drastis. Kondisi ini dia alamai sewaktu istrinya mengandung anak pertama, sekitar tahun 2005.

“Saya kalau nggak jadi orang beneran malu. Setelah saya nikahi istri saya, hidup saya berbalik 180 derajat,” tandasnya.

Kebiasaan buruknya dulu, sekarang ini sudah tak pernah Edi lakukan lagi. Kini dia lebih memilih mencari rezeki halal, dengan membuka warung gudeg di depan Balai RK Mantrijeron Kota Yogyakarta.

“Saya tidak pernah kerja di kantor, malas jadi pegawai,” jelasnya.

Sebelum berjualan gudeg Edi mengaku juga pernah berjualan angkringan tahun 2002. Tapi kini angkringan miliknya sudah tutup, sekarang beralih berjualan gudeg.

“Kebetulan istri juga suka masak,” paparnya.

Hasil berjualan gudeg sekitar tahun 2010 disebut Edi cukup lumayan, lantaran waktu itu belum banyak warung gudeg di Yogyakarta. Tapi sekarang pembeli di tempatnya tak sebanyak dulu, karena banyaknya warung gudeg menjamur di setiap sudut di Kota Yogyakarta.

“Grafiknya jualan turun, paling menjanjikan sekitar tahun 2010. Kalau sekarang karena banyak kompetitor hasilnya mulai berkurang,” ulasnya.

Tapi meskipun begitu, Edi tak berhenti untuk berbagai ke sesama. Dari rezeki yang ada, lalu dia menyediakan sahur gratis di warungnya pada Bulan Ramadan ini. []


Artikel Terkait :

About Nabila Maharani

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *