Foto: abet-uae.com

Pemimpin: Mereka yang Memilih Untuk Berlaku Adil atau Zalim

Foto: abet-uae.com

INSPIRADATA. Pemimpin, seorang yang begitu dicari dan diandalkan dalam memimpin suatu kaum, baik itu dalam skala yang kecil maupun besar. Pemimpin dalam bertindak harus sangat berhati-hati, karena apapun yang ia lakukan, berkaitan dengan nilai keadilan dan kezaliman. Dua hal tersebut sangat berhubungan dengan cara seorang pemimpin memperlakukan orang-orang yang berada di bawah pimpinannya. Demikian seperti disitat dari Akhbarislam pada Ahad (30/4/2017).

Jika perlakuan seorang pemimpin kepada bawahannya baik, seperti mendudukan seseorang di posisi yang tepat, menghargai kinerja atau prestasi yang sudah diraih oleh bawahannya, tidak pilih kasih, transparan dan mengedepankan sikap profesional, maka dia sudah berlaku adil. Begitupun sebaliknya, jika seorang pemimpin jauh dari sikap yang dimaksud, maka ia sudah berlaku zalim kepada umatnya.

Pemimpin yang adil atau zalim itu sangat berkaitan dengan integritas atau kepribadian. Karenanya Kepemimpinan tidak melulu soal tingkat Pendidikan, belum tentu jika seseorang tingkat Pendidikannya tinggi, maka kepribadiannya pun sempurna, tidak! Ya, contoh nyatanya lihat saja para pemimpin negeri ini.

Bersikap adil sangat ditekankan oleh agama Islam, bahkan dalam Al-Qur’an, adil itu tidak hanya dilakukan kepada orang yang kita sukai, tapi kepada orang yang kita benci pun harus. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Q.S. Al-Maidah: 8).

Pemimpin yang adil kelak di hari kiamat akan mendapat perlindungan dari Allah Ta’ala, “Abu hurairah r.a berkata, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh macam orang yang bakal bernaung di bawah naungan allah, pada hati tiada naungan kecuali naungan allah, salah satunya adalah pemimpin yang adil,” (H.R. Bukhari Muslim).

Tak hanya itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hokum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) kepada mereka,” (H.R.Muslim).

Hal senada juga dinyatakan dalam satu riwayat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang ahli surga ada tiga macam: raja yang adil, mendapat taufiq hidayat ( dari allah). Dan orang belas kasih lunak hati pada sanak kerabat dan orang muslim. Dan orang miskin berkeluarga yang tetap menjaga kesopanan dan kehormatan diri,” (H.R. Muslim).

Sebaliknya para pemimpin yang zalim, akan menjadi sumber malapetaka baik bagi dirinya maupun bagi yang lainnya baik di dunia maupun di akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Sesungguhnya sejahat-jahat pemerintah yaitu yang kejam (otoriter), maka janganlah kau tergolong daripada mereka,” (HR. Bukhari dan Muslim

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang diserahi oleh allah mengatur kepentingan kaum muslimin, yang kemudian ia sembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari qiyamat. Maka kemudian muawiyah mengangkat seorang untuk melayani segala hajat kebutuhan orang-orang (rakyat),” (H.R. Abu Dawud & Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tiada seorang yang diamanati oleh allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Umar bin ‘Abdul-Aziz rahimahullah berkata, ”Masyarakat umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin). Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan khusus itu adalah para pemimpin.”

Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu,” [Q.S. Al-Anfâl:25].

Sebagai penutup, Al-Walid bin Hisyam berkata, ”Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin.” []


Artikel Terkait :

About Ferry Ardiyanto Kurniawan

Seorang anak muda dengan cita-cita luhur yang sedang berproses secara perlahan tanpa jeda!

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *