Pemuda Ibarat Terik Matahari Pukul 12.00

pemuda-ibarat-terik-matahari-pukul-12-00INSPIRADATA. “Pemuda Ibarat terik matahari pukul 12.00”. Ungkapan ini berasal dari seorang pemuda Muslim yang berhasil meraih kesuksesannya. Ialah dr. Gamal Albinsaid. Dia adalah seorang dokter berjiwa sosial yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini. Tahukah anda, jika Islam sangat memperhatikan pemuda dan masa muda itu sendiri?

Jika dokter muda ini mengatakan ‘pemuda ibarat terik matahari pukul 12.00’ maka islam menjelaskannya dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Dari hadist di atas kita mengetahui bahwa Islam memerintahkan kepada umatnya khususnya kaum muda untuk memanfaatkan masa mudanya. Mengapa demikian?

Masa muda ibarat terik matahari jam 12.00. Dimana waktu itu, matahari sedang mencapai puncak panasnya. Jika diibaratkan manusia maka, seseorang sedang mencapai usia produktifnya. Artinya ia mampu melakukan banyak hal dalam hidupnya. Jika dilihat dari fisik, ia memiliki fisik yang kokoh (kuat), jika dari segi ruhiyah, ini adalah masa dimana seseorang  memiliki semangat yang membara, sedangkan dari segi kecerdasan, waktu ini adalah masa dimana ia sedang mereguk banyak ilmu.

Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal”. Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.

An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)

Sumber: Rumaysho


Artikel Terkait :

About Tia Apriati Wahyuni

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *