Unik, Informatif , Inspiratif

Pendonor Darah dan Penerima Bisa Jadi Mahram, Benarkah?

0

Pernahkah ikut menyumbangkan darah untuk yang membutuhkan? Bagaimana perasaannya? Saat kita melakukan suatu hal yang itu diniatkan lillahi ta’ala, dan dengan niat untuk membantu sesama saudara, sepertinya akan terasa sangat ringan. 

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan akan terbesit di benak, apakah Islam memperbolehkan donor darah? Mengingat darah yang keluar dari tubuh termasuk barang najis, tepatnya najis mutawassithoh (najis sedang).

BACA JUGA: Bolehkah Perokok Donor Darah?

Sebenarnya, Islam melarang memanfaatkan darah, baik secara langsung maupun tidak. Tapi, lain halnya bila sedang dihadapkan dalam situasi darurat, dan ada seseorang yang membutuhkan darah, sedangkan tidak ada sama sekali zat / bahan lain yang dapat menggantikan darah, maka darah yang tadinya najis pun dapat digunakan untuk menolong orang tersebut.

Seperti yang diterangkan dalam qaidah fiqih, yang berbunyi, “Tidak ada yang haram bila berhadapan dengan keadaan darurat, dan tiada yang makruh bila berhadapan dengan hajat (kebutuhan).”

Maksud dari kaidah tersebut menunjukkan bahwa Islam membolehkan hal-hal yang makruh dan yang haram bila berhadapan dengan kondisi darurat, berdasarkan keterangan tersebut maka hukum donor darah dibolehkan.

BACA JUGA: Apa Bedanya Muhrim dengan Mahram?

Lalu, apakah orang yang mendonorkan darah dan penerima donor (resipien donor) menjadi mahram?

Perlu diingat, bahwa yang perkara yang menyebabkan seseorang menjadi mahram terdiri dari tiga hal, yaitu nasab (hubungan turun temurun), sebab perkawinan dan sebab penyusuan. Jadi, pendonor dan penerima donor sama sekali tidak menjadi mahram.  []

Referensi: Tau Gak Sih Islam Itu Sehat?/Karya: Dr. Faza Khilwan Amna, MMR dan Dr. Hendri Okarisman/Penerbit: Aqwamedika


Artikel Terkait :

Comments
Loading...

Kamu Sedang Offline