antartika, Penelitian: 14 Bulan Bekerja di Antartika, Otak 9 Orang Menyusut
Unik, Informatif , Inspiratif

Penelitian: 14 Bulan Bekerja di Antartika, Otak 9 Orang Menyusut

0

ANTARTIKA atau kutub selatan memang tidak cocok untuk dijadikan tempat tinggal. Ditutupi salju abadi dan cuaca yang ekstrem tentu akan membuat manusia kesulitan untuk bertahan hidup. Tak hanya itu baru-baru ini ilmuwan menunjukkan bahwa hanya beberapa bulan hidup di Antartika, ternayat dapat membuat otak menyusut.

Mengutip National Geographic pada Selasa (14/1/2020), para ilmuwan mempelajari otak sembilan orang (lima laki-laki dan empat perempuan) sebelum dan sesudah mereka bekerja selama 14 bulan di pusat penelitian Jerman Neumayer III di Antartika.

BACA JUGA: Akibat Lapisan Es di Kutub Mencair, 4 Kota di Indonesia Ini Terancam

Dilaporkan pada jurnal The New England Journal of Medicine, hasil pindai MRI menunjukkan bahwa ada penyusutan dalam jumlah yang signifikan pada volume dentate gyrus mereka. Dentate gyrus merupakan salah satu bagian di hippocampus yang berkaitan dengan pemikiran spasial dan memori.

Perubahan pada otak ini tampaknya memiliki pengaruh pada kemampuan kognitif mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memori spasial dan fokus para partisipan mengalami penurunan.

Tinggal di Kutub Selatan–sebuah wilayah yang kadang mengalami periode kegelapan selama 24 jam dengan lingkungan bersalju–sangat berat bagi makhluk sosial. Tidak hanya menghadapi suhu serendah -50 derajat celcius, mereka juga harus mengalami ‘demam kabin yang kronis’.

BACA JUGA: Ada Perpustakaan Anti ‘Kiamat’ di Kutub Utara

Kehidupan sehari-hari di pusat penelitian dideskripsikan monoton dan penuh isolasi sosial yang berkepanjangan. Selain itu, soal privasi juga sangat terbatas.

Walaupun belum jelas, tapi para peneliti yakin penyebab penyusutan otak tersebut adalah karena lingkungan yang monoton dan terisolasi.

“Skenario ini menawarkan kami kesempatan untuk mempelajari tentang bagaimana paparan kondisi ekstrem mampu memengaruhi otak manusia,” ungkap Alexander Stahn, pemimpin penelitian dari Charité’s Institute of Physiology dan asisten profesor di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania. []

SUMBER: NATIONAL GEOGRAPHIC


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.