Penuturan Korban Gempa Aceh, Rudi: Ada yang Kepalanya Berdarah-Darah…

INSPIRADATA. Bagaimana situasi bencana gempa di Pidie, Aceh, pagi tadi (7/12/2016). Rudi, salah satu warga Pidie, memberikan penuturannya.

Dilansir dari Okezone, Rudi yang sedang bermalam di rumah temannya saat gempa itu terjadi sempat kalang kabut menyelamatkan diri. Sekira pukul 05.03 WIB, ia berada di kawasan Tijue, Kabupaten Pidie. Ada delapan orang di rumah tempatnya menginap tersebut.  Semua yang sedang tidur saat itu langsung berhamburan karena getaran gempa yang berpusat di Pidie Jaya itu terasa kuat.

Sayangnya, saat akan keluar, kunci pintu tidak bisa dibuka. Upaya membuka pintu tersebut baru berhasil setelah mereka berusaha tenang di tengah kepanikan. Begitu pintu terbuka, Rudi bersama tujuh temannya langsung menuju jalan yang jauh dari bangunan.

“Kami di jalan melihat tetangga juga berhamburan. Sekira 10 menit kemudian, datang lagi gempa, tapi tidak sekuat yang pertama,” ucap Rudi dilansir dari Okezone, Rabu (7/12/2016).

Ia lalu menelepon keluarganya yang tinggal di Pidie. Kabar yang didapat adalah bahwa keluarganya baik-baik saja walaupun sempat terjadi kepanikan disana. Tapi kabar duka justru datang dari keluarga temannya yang ternyata tertimpa reruntuhan.

“Datang kabar dari Pidie Jaya kalau rumah keluarga roboh dan menimpa dua orang di rumah. Kakak teman saya dan anaknya. Kami langsung bergegas ke Pidie Jaya naik mobil,” ceritanya.

Selama perjalanan dari Pidie ke Pidie Jaya, Rudi melihat kepanikan. Warga berkumpul di pinggiran jalan menjauhi bangunan. Ada warga yang menangis, minta tolong, sementara bangunan-bangunan tampak roboh.

Rudi mengaku sebenarnya ingin menolong, tapi tak dilakukan karena harus memastikan keluarga temannya di Pidie Jaya yang juga mengalami nasib serupa.

“Ingin sekali menolong mereka, tapi kami juga dalam perjalanan menolong keluarga,” ujarnya.

Rumah keluarga teman Rudi yang dituju berada di suatu lorong, sekira 100 meter dari jalan utama di Pidie Jaya. Mobil tidak bisa masuk karena jalanan lorong yang kecil. Begitu sampai, ia dan teman-temannya langsung lari meninggalkan mobil menuju rumah sang kakak.

“Sama saja kesedihannya. Orang-orang di lorong itu juga minta tolong. Ada yang kepalanya berdarah-darah. Rumah kakak teman saya itu roboh, kakak teman saya dan anaknya tertimpa. Tapi sewaktu kami sampai, keduanya sudah dievakuasi ke Puskemas Pidie Jaya,” tuturnya.

Rudi dan teman-temannya langsung menolong warga di sana. Mobil yang harusnya untuk delapan orang, dipaksa memuat lebih banyak warga yang butuh bantuan.

“Ada anak tetangga masih kecil terluka, kami tolong. Ada pula orang dewasa yang kepalanya berdarah-darah. Kami bawa mereka ke puskemas,” ungkapnya.

Sampai di puskemas, Rudi bertemu keluarga temannya. Sayangnya kakak dan ponakan temannya itu tidak tertolong. Sedangkan dua keluarga lainnya bisa menyelamatkan diri meski mengalami patah tulang tangan.

“Di puskemas sudah tidak ada yang menolong, karena medis juga sibuk dan jumlah mereka sedikit, sementara warga yang terluka banyak. Keluarga yang patah tangan kami bawa ke rumah sakit di Kabupaten Pidie,” terangnya mengenang kejadian pagi tadi.

Ini kedua kalinya Rudi merasakan gempa yang cukup dahsyat. Pertama saat Aceh diguncang gempa besar 9,2 SR pada 2004 lalu yang disertai tsunami.

“Trauma yang dulu belum hilang, saat ini merasakan lagi. Semoga Allah SWT melindungi kita semua,” pungkasnya[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

Jangan Langsung Minum Air Dingin ketika Berbuka Puasa! Ini Akibatnya!

Langsung minum air es saat berbuka puasa ternyata tak baik bagi tubuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *