Perintah, Larangan dan Takdir

Syeikh Abu Muhammad Abdul Qadir al-Jailani berkata, seperti dalam kitab Futuhul Ghaib:

Dalam segala keadaan, setiap mukmin itu tidak bisa lepas dari tiga hal: Perintah yang ia laksanakan, larangan yang ia tinggalkan, dan takdir yang ia relakan.

Minimalnya, hendaknya orang beriman itu tidak lepas dari salah satu dari tiga hal tersebut.

Maka hendaklah ia mengharuskan tiga hal tersebut dalam hatinya, membisikkannya kepada dirinya dan menggunakannnya untuk membimbing anggor tubuh dalam keadaan segala keadaan.

Aku katakan,

Ini adalah ungkapan mulia dan merangkum, yang dibutuhkan oleh setiap orang dan merupakan rincian atas apa yang dibutuhkan oleh hamba. Hakikat persoalannya adalah bahwa setiap orang dalam setiap waktu selalu butuh melakukan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga hal di atas tak lain berpangkal pada pelaksanaan perintah.

Karena pada saat ia diperintahkan untuk melakukan satu ibadah wajib, seperti shalat lima waktu, haji dan sebagainya, ia merasa perlu untuk melakukannya. Sedangkan pada saat terjadi sebab-sebab maksiat, maka ia perlu untuk menolak, membenci dan menahan diri terhadap perbuatan tersebut.

Sementara takdir yang membuatnya ridha, maka ketika ia mendapat ujian berupa penyakit, kemiskinan atau ketakutan, maka ia diperintahkan untuk bersabar sebagai perintah wajib yang lain.

Di samping itu, iapun diperintah untuk ridha terhadap perintah yang wajib maupun yang sunnah.

Sabar dan Ridha terhadap musibah itu sendiri merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasulnya, karena termasuk ke dalam pelaksanaan perintah dan merupakan ibadah kepada Allah.

Al-Fatawa Ibnu Taymiyah, 10: 455-457


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *