Unik, Informatif , Inspiratif

Perjumpaan dengan Dajjal

0

Ibnu Majah meriwayatkan dari Fathimah binti Qais r.a., ia berkata, “Suatu hari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam keluar lalu naik ke atas mimbar.

Biasanya, beliau tidak naik mimbar pada waktu seperti itu, kecuali pada hari Jumat.

Karena itu, hal tersebut terasa serius bagi orang-orang maka ada yang lantas berdiri, ada pula yang duduk.

Beliau lalu mengisyaratkan dengan tangannya kepada orang-orang untuk duduk lalu bersabda: ‘Demi Allah, sesungguhnya aku berdiri di tempatku ini tidaklah karena suatu hal yang bermanfaat untuk kalian, bukan pula untuk menganjurkan atau menakuti.

BACA JUGA: Tanda Kiamat, Mana yang Lebih Dulu: Munculnya Dajjal atau Terbitnya Matahari dari Barat?

Akan tetapi, Tamim ad-Dari telah datang kepadaku lalu menceritakan suatu kisah yang mencegahku dari tidur sejenak pada siang hari karena rasa gembira dan senang.

Karena itu, aku ingin menyebarkan kepada kalian kebahagiaan Nabimu.

Ketahuilah bahwa saudara sepupu Tamim ad-Dari menceritakan kepadaku bahwa angin membuatnya terdampar di suatu pulau yang tidak mereka kenal.

Mereka pun duduk di atas sampan-sampan perahu lalu mereka keluar dengan sampan itu.

 Tiba-tiba mereka bertemu dengan suatu binatang yang berbulu mata panjang, hitam, dan berbulu tebal.

Mereka bertanya kepadanya:‘Siapakah engkau?’

Ia menjawab:‘Aku adalah al-Jassasah.’

Mereka bertanya lagi: ‘Kabarkanlah kepada kami (tentang dirimu).’

Ia menjawab: ‘Aku tidak akan menceritkan apa pun kepada kalian dan tidak akan bertanya tentang sesuatu. Namun, kalian telah melihat biara itu dengan sepintas maka datangilah karena di sana ada seorang lelaki yang sangat rindu agar kalian bercerita kepadanya dan ia pun akan bercerita kepada kalian.’

Akhirnya, mereka mendatangi biara itu dan menemui lelaki yang dimaksud.

Ternyata mereka bertemu dengan orang tua yang tengah diikat dengan ikatan yang kencang, menampakkan kesedihan yang sangat merintih.

Orang itu berkata kepada mereka: ‘Dari manakah kalian?’

Mereka menjawab: ‘Dari negeri Syam.’

Ia bertanya: ‘Apa yang diperbuat oleh bangsa Arab?’

Mereka menjawab: ‘Kami adalah sebuah kaum dari bangsa Arab. Apa yang ingin engkau tanyakan?’

Ia menjawab: ‘Apa yang dilakukan oleh lelaki yang keluar (diutus) dari lingkungan kalian?’

Mereka menjawab: ‘Baiklah,ia menentang kelompok (kaum)nya lalu Allah memberinya kemenangan atas mereka. Kini mereka sama dalam segalanya: Tuhan mereka satu dan agama mereka pun satu.’

Ia bertanya: ‘Apa yang diperbuat dengan Ain Zughr (mata air di Syam)?’

Mereka menjawab: ‘Baiklah, mata air itu mereka gunakan untuk menyirami tumbuhan dan menghilangkan dahaga mereka.’

Ia bertanya lagi: ‘Apa yang terjadi pada pohon kurma antara Amman dan Baisan?’

Mereka menjawab: ‘Pohon itu berbuah setiap tahun.’

 Ia bertanya lagi: ‘Apa yang dilakukan oleh Danau Thabariyah?

Mereka menjawab: ‘Melimpah ke sisi-sisinya karena banyaknya air dan mendesahkan napas tiga kali.’

Selanjutnya, ia berkata: ‘Seandainya aku lepas dari ikatanku ini, tidaklah akan kutinggalkan sebuah daratanpun, kecuali kuinjak dengan kedua kakiku ini,terkecuali tanah suci yang tidak mampu aku kuasai’.’

BACA JUGA: 5 Macam Syafaat Rasulullah bagi Umatnya pada Hari Kiamat

Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Sampai di sini berhentilah wahyku. Ini adalah Thaybah (Madinah). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, di dalamnya tidak ada jalan sempit atau luas, dataran ataupun gunung, kecuali di atasnya terdapat malaikat yang menghunuskan pedangnya sampai datangnya hari Kiamat’.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

 

Sumber: Tadzkirah | Karya: Imam al-Qurthubi | Penerbit: Qisthi Press


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.