Unik, Informatif , Inspiratif

Pertanian Masa Depan di Depan Mata

0

SEBUAH perusahaan asal China mengklaim bahwa mereka telah berhasil menciptakan “smart farm” yang memungkinkan mereka menanam sayuran tanpa tanah dan sinar matahari alami. Teknologi ini sebetulnya tengah diuji coba oleh beberapa negara di berbagai belahan dunia.

Sebuah perusahaan agrikultur di Anxi, Provinsi Fujian, bernama Sanan Sino-Science telah melakukan serangkaian uji coba. Perusahaan ini tengah memperbaiki teknologi canggih yang dapat mengontrol pertanian dalam ruangan itu kini . Mereka berharap proyek ini dapat menjadi alternatif bagi sektor agrikultur Negeri Tirai Bambu itu.

BACA JUGA: Inspiratif, Pertanian di Jepang Sudah Andalkan Drone!

Lahan pertaniannya sendiri berada di dalam ruangan seluas 5.000 kaki persegi, dan memproduksi delapa hingga sepuluh metrik ton sayuran setiap hari. Padahal, mereka hanya mempekerjakan empat orang staf untuk mengelolanya.

metode pertanian seperti ini ternyata membutuhkan sistem operasional yang sangat ketat. Mulai dari pengaturan suhu, sumber air, kelembapan, nutrisi, dan lampu LED yang digunakan sebagai pengganti sinar matahari.

Namun jika dilakukan dengan tepat, sistem ini justru dapat menghemat penggunaan air, serta menjamin setiap tanaman mendapatkan asupan air yang pas.

“Dibandingkan dengan pertanian pintar generasi pertama kami, tanaman baru ini menghasilkan hasil yang lebih efektif sekaligus mengurangi biaya produksi serta tenaga kerja yang dibutuhkan,” tutur Zhan Zhuo, CEO Sanan Sino-Science.

Efesiensi lahan jelas terasa jikadibandingkan dengan lahan pertanian konvensional yang membutuhkan sekira 300 petani untuk menghasilkan jumlah yang sama, yang dapat digunakan untuk memberi makan hampir 36.000 orang.

Proyek ini juga dilengkapi oleh sejumlah fasilitas canggih yang memungkinkan mereka membudidayakan sayuran dan tanaman herbal melalui metode hidroponik.

Zhan menjelaskan bahwa teknik revolusioner mereka memaksimalkan potensi pertumbuhan tanaman, sambil mempertahankan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan.

Sebagai contoh, sayuran yang ditanam dengan metode konvensional membutuhkan sekitar 40-60 hari untuk mencapai tingkat kematangan tertentu, dan masih bergantung pada kondisi cuaca. Sementara ‘pabrik sayuran’ milik Sanan Sino-Science mampu memanen beberapa varietas sayuran hanya dalam waktu 18 hari untuk sayuran berukuran kecil, dan 33-35 hari saja untuk sayuran yang lebih besar.

BACA JUGA: Rekayasa Pertanian Daerah Gurun

Zhan menjelaskan bahwa metode pertanian ini sangat bermanfaat untuk digunakan pada lingkungan yang menantang seperti padang pasir, pegunungan, atau di kota-kota besar yang membutuhkan tenaga kerja dengan biaya tinggi.

Zhan mengklaim bahwa pabrik sayuran mereka dapat memproduksi 3.000 hingga 3.500 metrik ton sayuran setiap tahun dengan kapasitas penuh. Sayuran tersebut kemudian akan didistribusikan ke sejumlah supermarket dan restoran kelas atas di Provinsi Fujian dan Shanghai. Harganya memang lebih mahal dari sayuran biasa yang dijual senilai Rp6 ribu per kilogram. Sayuran ‘berteknologi tinggi ini’ dibanderol seharga Rp64 ribu – Rp77 ribu per kilogram. Demikian dilansir dari Next Shark, Kamis (12/7/2018).[]

SUMBER: OKEZONE


Artikel Terkait :
Comments
Loading...

Kamu Sedang Offline