Foto: Detik.com

Polri Masih Belum Tangkap Penyiram Air Keras ke Novel Baswedan

Foto: Detik.com

Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan masih ditangani pihak kepolisian. Karena cenderung lamban, Aktivis Perempuan Antikorupsi pun menyoroti belum seriusnya aparat penegak hukum dalam mengusut hal ini lantaran sampai saat ini polisi belum mampu mengungkap pelaku maupun motif di balik penyiraman tersebut. Sementara itu, penyidik KPK senior tersebut masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Singapura karena luka serius di bagian matanya.

Salah satu aktivis Perempuan Antikorupsi Betti Alisjahbana mendesak agar Polri segera mengungkap siapa pelaku dan motif penyerangan kepada Novel. Ia mengatakan, kasus penyerangan tersebut juga harus ditanggapi secara serius oleh pemerintah.

“Sekarang sudah 12 hari ya sejak penyerangan terhadap Novel tapi kita nggak melihat kemajuan yang berarti dalam kasusnya. Saya pikir ini saatnya pemerintah Presiden Jokowi untuk memperkuat tim yang melakukan penyelidikan ini, ambil tenaga-tenaga yang terbaik,” kata Betti di Kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Kalibata, Jakarta Selatan pada Minggu (23/4/17).

Menurutnya, penyerangan terhadap Novel tak boleh dianggap sebagai kasus kriminal biasa. Kasus ini juga, kata dia, harus dianggap bagian teror terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Apalagi penyerangan yang dilakukan kepada Novel ini bukanlah yang kali pertama dilakukan.

Jika dibiarkan, tambahnya, kasus ini bisa terus terulang kepada KPK. “Kita tidak tahu dan siapa di balik ini, kalau ini dibiarkan ini akan menjadi satu pelemahan upaya pemberantasan korupsi. Saya kira ini sesuatu yang sangat penting bagi presiden untuk meyakinkan bahwa langkah-langkah penyelidikan ini harus secara kredibel oleh orang-orang terbaik,” kata Betti, lansir Republika.

Ketua RT Ceritakan Kronologi Penyiraman Air Keras Terhadap Novel Baswedan
Karena itu, mantan Anggota Panitia Seleksi pimpinan KPK tersebut menyerukan dibentuknya Tim Pencari Fakta kasus teror Novel Baswedan yang diisi orang orang terbaik, kalau perlu melibatkan BNPT. Sehingga, ia meyakini adanya tim dengan keahlian di berbagai bidang tersebut dapat segera mengungkap siapa penyiram air keras tersebut.

“Saya percaya bahwa Indonesia ini banyak orang-orang hebat. Baik di Polri baik di BNPT banyak kasus teror yang bisa diungkap dalam waktu yang cepat, ini bukan kriminal biasa tapi sudah masuk teror,” ujar Betti.

Aktivis lainnya yakni Peneliti ICW Divisi Hukum dan Monitoring Lalola Ester juga mengungkap penyerangan terhadap Novel diminta tak dipahami sebagai penyerangan individu melainkan terkait kerja KPK. Ia juga mempertanyakan lambatnya pengungkapan kasus teror Novel oleh Polri dibandingkan kasus-kasus lain yang mudah diungkap oleh aparat penegak hukum.

BACA JUGA:
Seperti Apa Proses Operasi Kornea Novel Baswedan? 
Polisi Usut Tuntas Kasus Teror Air Keras pada Novel Baswedan

“Progresnya belom terlihat. Polisi menyatakan sedang melakukan proses hukum, tapi untuk yang sebesar ini kok progressnya agak lambat dibandingkan kasus lain. Kayaknya alat bukti cukup, tapi hasilnya jauh dari seharusnya,” kata Lalola.

Karenanya, ia menilai jika penyelesaian kasus tersebut masih berlarut, presiden mempunyai kewenangan membentuk tim investigasi yakni tim pencari fakta. Hal ini sudah teruji bahwa adanya tim TPF membuat progres pengungkapan kasus lebih cepat seperti kasus pembunuhan Munir.

“Adanya tim independen, rekam jejak sudah teruji, bisa ungkap perkara ini dengan independen. Ini sudah pernah diujikan TPF Munir meski belakangan ada masalah, tapi ketika dibentuk progresnya lebih baik. Temukan fakta yang nggak ditemukan aparat penegak hukum,” kata Lalola. []

SatuMedia


Artikel Terkait :

About Saefullah DS

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *