PPAP, Ajang Lucu-lucuan?

piko-taro INSPIRADATA. Anda tentu sudah tidak asin lagi mendengar istilah PPAP? Ya, sebuah lagu dengan gerakan yang cukup menghibur ini memang sedang booming di dunia maya. Ialah musisi dan comedian asal Jepang, Kazuhiko Kosaka atau yang popular dipanggil Piko Taro berhasil menghipnotis ribuan orang, khususnya remaja dengan video paro tersebut.

Video yang diunggah dalam YouTobe pada 26 Agustus 2016 lalu, berhasil meledak dan booming hingga ke seluruh dunia dengan cepat. Tentunya ini adalah sebuah prestasi bagi Piko Taro. Hingga banyak orang meniru nyanyian Pen-Pineapple-Apple-Pen (PPAP) dan tarian yang dilakukan oleh Piko dengan gayanya yang tidak biasa.

Tapi, mengapa ya banyak orang yang menyukai nyanyian yang tidak jelas makna dan tarian yang begitu biasa ini? Ternyata, banyak orang yang menjawab bahwa mereka menyukainya karena memang dijadikan sebagai hiburan semata. Lagu dan tarian sederhana, bahkan anak-anak pun bisa melakukannya ini, membuat mereka tidak kesulitan untuk menirukannya.

Banyak orang yang bilang, PPAP ini hanya dijadikan sebagai ajang lucu-lucuan saja. Di mana bisa dijadikan sebagai hiburan di tengah-tengah kesibukan. Hanya saja, seringkali seseorang tidak bisa menggunakan waktunya dengan baik. Mereka lebih suka melakukan hiburan dengan melupakan hal pokok yang harus dilakukan sebagai manusia di muka bumi.

Bumi ini adalah tempat sementara. Maka seharusnya, setiap waktu yang berlalu harus digunakan dengan sebaik mungkin. Sekali pun ada waktu senggang, maka jangan biarkan waktu itu berlalu dengan melakukan hal yang melenakan diri kita terhadap kewajiban. Kita harus mampu memaksimalkan waktu dengan baik, karena penyesalan selalu dating di akhir. Dan jangan sampai kita menyesal di kemudian hari.

Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan kita sebagai umatnya dengan hadis, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang,” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).

Sebagai seorang Muslim, kita harus menyikapi segala sesuatu yang baru dengan bijak. Lihatlah titik kemaslahatan dan kemadharatannya. Jika memang lebih banyak manfaatnya, maka jadikan sebagai pelengkap hidup kita. Tapi, jika hanya membuat diri kita terlena, hingga melupakan akhirat sebagai tempat yang kekal nantinya, lebih baik tinggalkan saja. Boleh saja kita hiburan. Hanya saja, seorang Muslim yang baik tentu akan memilih hiburan yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan sebaliknya. []


Artikel Terkait :

About Rika

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *