Unik, Informatif , Inspiratif

Radikalisme di Masjid

0

Oleh: Kesit Susilowati

Semua pasti sepakat, suasana masjid mestinya hening, damai, adem. Tapi percayalah, suasana seperti itu jarang kita kita dapatkan di masjid-masjid perumahan, dengan populasi yang terus tumbuh. Apalagi kebanyakan warga percaya masjid adalah tempat yang baik untuk tumbuh kembang anak.

Jadi begitulah, Laksmi mencoba maklum, ketika masjid saat Taraweh dipenuhi para kanak-kanak. Masalahnya kemampuan untuk khusu setiap orang berbeda. Dan Laksmi, berada pada tingkat serendah-rendahnya umat yang fokus ketika beribadah.

Bagaimana tidak, saat taraweh dimulai, anak-anak bersarung bukannya mengikuti solat berjamaah, tapi menyalakan petasan di lapangan. Tepat di depan Laksmi solat. Baiklah, mungkin Tuhan memberi skenario, agar Laksmi merasakan bagaimana saudara-saudaranya di Palestina, Syria, dan belahan buni lain yang solat, di tengah bombardir bunyi ledakan. Yup, bayangkan! Nyawamu diujung, kau mau mati! Laksmi sedikit gemetar. Dia seolah melihat Izroil di ujung sajadahnya. Manipulasi persepsinya menggiring pada kesahduan gaib.

BACA JUGA: Mengenal Lebih Dekat Masjid Bersejarah Ghamamah

Di malam berikutnya, laksmi memilih shaf di baris ke dua. Dia akan terhidndar dari kengerian petasan gila. Namun saat Taraweh berlangsung, seorang bayi merangkak, menggoda barisan yang dilewatinya. Bayinya berhenti tepan di depan laksmi. Duduk dan tangannya mulai menggeranyangi keresek sendal. Bayi itu membuang botol susunya. Laksmi tak menahannya, ketika bayi itu mulai mengunyah sendalnya. Matanya berkejap-kejap, seperti memberi sandi pinjar ‘SOS’. Tapi bagaimana mungkin? Laksmi menjerit “Oh… jangan! Itu sendal bekas jalan ke pasar, becek, jijik… kuman, bakteri, virus, jamur… e*k…!” tapi tak mungkin bayi itu belum mengerti bahasa isyarat, bahasa indonesia, apalagi bahasa batin.

Malam berikutnya, Laksmi mendapat posisi di depan lapangan lagi. Dia mulai galau ketika anak-anak mulai bermain bola. Saat shalat tarawih mulai, anak-anak itu seperti memanas di lapangan. Kenapa tak ada seorang dewasapun menertibkan mereka? Laksmi mencoba khusu. Matanya menunduk syahdu, tapi kepalanya riuh, seperti menyalakan ribuan kamera, menyaksikan permainan bola kanak-kanak. Lalu seorang anak mulai menendang sendalnya. Menjadikan sendalnya bola. “Gooool!” teriak seorang anak, “yah… masuk got.”

Anak-anak itu berlarian masuk mesjid. Bertaubatkah? Mereka tentu paham, masjid bukan tempat penebus dosa sebagaimana para mafioso melakukannya di bilik-bilik pengakuan dosa dalam film hollyood.

Namun tahun-tahun berikutnya. Kanak-kanak itu mulai berpindah arena. Mereka mulai berbaris tertib dalam shaf solat. Dari suara remaja yang pecah, serak, Laksmi tahu, salah seorang dari mereka menjadi imam. Luar biasa.

Dengan cara yang misterius, Tuhan telah mengajari laksmi agar setia khusu dalam sholat. Tuhan juga mengajari jiwa kanak-kanak itu tumbuh dengan semestinya.

BACA JUGA: Masjid-Masjid Donggala Itu Masih Kokoh Diterpa Gempa dan Tsunami

Masjid itu pun tumbuh. Bukan hanya tentang bertambah ruangan, ke atas, ke samping, tapi masjid itu tumbuh dengan bersama para penghuni.

Dulu masjid itu diam menampung para kecambah berupa begundal cilik, kini masjid itu tetap diam, menampung para remaja itu tumbuh belajar. Para Kecambah itu kini tumbuh, tinggi menjulang mencapai arsnya.

Jadi, sejatinya, itulah yang dinamakan “radikalisme Mesjid’. Masjid yang mengubah secara radikal dari bentuk kecambah hingga tumbuh menjadi pohon yang kuat. Dari kanak-kanak tanpa tahu aturan, tanpa khusu, tanpa peduli dunia ibadah, menjadi remaja yang santun, dan bergairah membangun komunitas agamis di lingkungan. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.