Rahasia Menulis Kang Abik [3, habis]

INSPIRADATA. Terkait novel terbaru kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy) ‘Bidadari Bermata Bening’, ia berharap kehadiran novel itu mampu menjawab harapan dari banyak pembaca yang sangat ingin ada tokoh utama wanita.

Kang Abik mengaku sengaja mengangkat satu masalah yang dekat dengan keseharian, supaya orang mudah merasakannya.

Aina Mardhiyah, dinilai meruapakan tokoh yang akan sangat dekat dan dimiliki orang-orang desa dan kota, sehingga masyarakat mampu menggambarkannya sendiri. Ia mengira, tidak sedikit pembaca yang akan menganggap Aina sebagai Fahri (tokoh Ayat Ayat Cinta) versi lain.

Hal itu dikarenakan kesempurnaan tokoh yang dikisahkan, yang sebenarnya tokoh-tokoh seperti Aina banyak ada di tengah masyarakat. Menurut Kang Abik, tokoh perempuan yang tangguh, bersih dan bagus hatinya masih banyak ada di masyarakat, tapi memang jarang menjadi sorotan.

“Intinya, saya ingin menyampaikan kalau di Indonesia itu masih banyak orang soleh dan solehah, itu perlu kita hadirkan,” kata Kang Abik.

Ia menuturkan, kebaikan utama yang patut dicontoh dari sosok Aina ialah tentang istiomahnya, selalu bersama dengan Allah SWT dan membuat ahlak dan adabnya layak ditiru. Adab itu, lanjut Kang Abik, ditunjukkan Aina kepada guru, kiai dan orang tua, termasuk ke pamannya yang sedikit jahat.

Bahkan, adab yang ditunjukkan lewat Aina itu dirasa sejalan dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW, yang senantiasa memperlakukan orang dengan baik. Ia meyakini, orang seperti itu merupakan mereka yang selalu bersama Allah SWT, dengan kebaikannya yang pasti dibalas kebaikan pula.

“Makanya, tidak usah pesimis berbuat baik kepada orang lain, itu yang dibuat Aina,” ujar Kang Abik.

Sedangkan, untuk latar pesantren yang kali ini diangkat di novelnya, dianggap sebagai pengingat kalau pesantren ialah institusi pendidikan tertua di Indonesia. Karenanya, ia ingin akar itu tidak hilang di generasi ke depank, karena merupakan kekuatan besar di Indonesia.

Ia menambahkan, keikhlasan orang-orang yang ada di pesantren tidak akan bisa ditandingi lembaga-lembaga pendidikan manapun, yang seharusnya dijadikan harta berharga bagi Indonesia. Lewat novelnya pula, masyarakat diajak untuk dapat menjaga keberadaan pesantren di Indonesia.

“Masyarakat Muslim harus mencintai pesantren,” kata Kang Abik. []

Sumber: Republika


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

fungsi pangkal tusuk gigi

Di Balik Populernya Tusuk Gigi di Dunia, Ini Sejarahnya

Sekitar tahun 1870, ia mampu memproduksi jutaan tusuk gigi kayu dalam satu hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *