Unik, Informatif , Inspiratif

Ranca Darah

0

Sabtu malam. Wanayasa. 22.30. Rapat baru saja usai. Langit hitam. Di Wanayasa, di musim seperti ini, langit selalu gelap. Kilat menggeletar menebas awan. Rintik hujan menyiratkan besar air yang tumpah.

Saya menstarter motor. Tak ada jas hujan. “Sudahlah, bermalam saja di sini. Besok shubuh, pulang. Cuaca sangat tidak bersahabat,” ujar sahabat tuan rumah rapat.

Saya menggeleng. “Besok, ada acara pagi-pagi sekali.”

Semua rekan sudah meluncur pulang. Saya memacu motor.

Dari arah Sagala Herang, sebuah motor vespa yang agak kekinian muncul. 2 orang. 1 orang tampaknya perempuan tidur namun aneh, dua tangannya tampak tidak berpegangan.

Hujan mengguyur deras dan jalanan lengang tersedu. Lampu menuju kota mati. Mungkin karena aliran akibat cuaca sedikit badai.

Saya mengikuti vespa. Lajunya konstan. Jarak sekitar 10 meter. Sudah tak ada kendaraan lain. Hanya kami berdua menerobos hujan.

Ranca Darah di depan. Angin dan hujan bersahutan keras menghembus. Motor laju sedikit, mungkin oleng. Saat Lancah Darah akan berakhir, saya coba melewati vespa di depan.

Seketika darah saya terkesiap, dua pengendara motor vespa tiada bermuka sama sekali. Hanya putih. 10 meter kemudian, saya tidak lagi melihat vespa itu, sementara hujan masih terus ikut bahkan sampai depan rumah. []


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.