foto: netralnews

Ratusan Ton Beras Bulog Terendam Banjir di Bima

foto: netralnews

INSPIRADATA. Banjir menggenangi kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Ratusan ton beras milik Perum Badan Urusan Logistik Bima yang tersimpan di gudang Jatiwangi rusak terendam banjir bandang yang menerjang Kota tersebut.

“Sebanyak 40 persen dari total stok sebanyak 2.200 ton yang tersimpan di gudang Jatiwangi, diperkirakan rusak setelah terendam berhari-hari,” kata Humas Perum Badan Urusan Logistik Divisi Regional NTB Syawaludin Susanto, di Kota Bima, Ahad seperti dilansir dari Republika.

Kota Bima, di Pulau Sumbawa, NTB, diterjang banjir bandang pada Rabu (21/12). Banjir susulan kembali terjadi pada Jumat sekitar pukul 12.30 Wita. Pada saat kejadian banjir pertama, ketinggian air yang merendam tumpukan beras di dalam gudang mencapai dua meter. Namun pada saat banjir susulan, ketinggian air mencapai tiga meter.

“Pada saat banjir pertama tumpukan beras yang terendam hanya delapan lapis, tapi pada saat banjir kedua mencapai 10 lapis,” ujarnya.

Derasnya air banjir, kata dia, juga menyebabkan tembok gudang GBB 1 dan tembok pagar gudang penyimpanan beras di Jatiwangi jebol.

Anto mengatakan, kejadian tersebut sudah dilaporkan ke Bulog pusat di Jakarta. Pihaknya saat ini menunggu arahan terkait dengan penanganan beras yang rusak akibat terendam banjir.

“Kami belum tahu apakah dimusnahkan atau seperti apa karena menunggu arahan dari Jakarta. Tapi pengalaman banjir di Kota Bima, pada 2006 beras yang terendam dimusnahkan dengan cara ditimbun,” katanya.

Sementara beras yang tidak terendam, kata dia, dipindahkan ke gudang penyimpanan yang ada di Kecamatan Bolo, Kabupaten Bim. Jaraknya sekitar satu jam perjalanan.[]


Artikel Terkait :

About Susanti

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *