rohana kudus
Foto: Wikipedia/Republika

Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia yang Terlupakan

Berbicara pahlawan nasional dari kalangan perempuan, selalu identik dengan sosok R.A. Kartini. Bahkan, setiap tahunnya Hari Kartini selalu diperingati oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Seolah hanya Kartini-lah satu-satunya pahlawan nasional yang mewakili kaum perempuan turut andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Namun, faktanya tak hanya Kartini, ternyata masih banyak lagi tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia dari kalangan perempuan yang jarang diketahui oleh masyarakat.

Salah satunya, Rohana Kudus atau Roehana Koeddoes menurut ejaan lama.

Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, 20 Desember 1884, dengan nama Siti Roehana.

Ia merupakan saudara tiri Perdana Menteri pertama RI Soetan Syahrir, bibi dari penyair terkenal Chairil Anwar, serta sepupu H. Agus Salim.

Jasa Rohana Kudus di antaranya mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang pada 1911. Sekolah yang mendidik keahlian anak-anak perempuan ini merupakan tindak lanjut dari dideklarasikannya perkumpulan perempuan Kerajinan Amai Setia, yang dipimpin Rohana, pada 11 Februari 1911.

Kiprahnya di dunia jurnalistik dimulai dari Surat Kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia. Koran ini dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia.

Rohana dinilai sebagai perempuan Indonesia pertama yang secara sadar memerankan dirinya sebagai seorang jurnalis.

Dia bersedia meliput berita sekaligus menulis untuk kemudian dikirimkan ke media massa.

Saat Poetri Hindia tutup, ia berkiprah di surat kabar Oetoesan Melajoe yang sudah terbit sejak 1911.

Pengalamannya mendapat apresiasi dari Datoek Soetan Maharadja alias DSM.

Pemilik Oetoesan Melajoe itu kemudian mendukung Rohana menerbitkan Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912.

Ia dipercaya untuk mengendalikan surat kabar ini sebagai pemimpin redaksinya.

Inilah perempuan Indonesia pertama yang secara langsung memimpin surat kabar dan secara teknis sangat terlibat dalam tiap-tiap terbitannya.

Namun, perjuangan masyarakat Sumatra Barat untuk membawa nama Rohana Kudus diangkat sebagai pahlawan nasional tampaknya masih panjang.

Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) di Sumatra Barat masih harus meyakinkan tim di Kementerian Sosial untuk bisa dibahas oleh Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan di bawah Presiden Joko Widodo.

Dari segi administrasi, barangkali jurnalis perempuan pertama di Indonesia tersebut sudah sangat pantas untuk diajukan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Namun, yang tak boleh dilupakan, nama besar Rohana Kudus masih harus bersaing dengan sembilan kandidat pahlawan nasional lainnya yang diajukan tahun 2018.

Karenanya, pemerintah pusat meminta tim di daerah melengkapi dokumen mengenai karya cipta Rohana Kudus yang masih bisa dirasakan manfaatnya saat ini.

Kasubdit Penghargaan dan Tunjangan Kesejehteraan Keluarga Pahlawan dan PK Kementerian Sosial, Afni, mengingatkan tim di level daerah untuk bisa menyajikan perjuangan Rohana Kudus semasa hidup.

Tim juga harus menyajikan kelebihan pendiri Yayasan Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat, itu. Terutama kelebihan yang masih dirasakan manfaatnya saat ini.

Misalnya, Afni mengatakan, sejumlah karya Rohana Kudus dalam Surat Kabar Soenting Melajoe yang ia pimpin.

Dia meminta karya-karya Rohana yang sudah memiliki hak cipta dimasukkan dalam pembahasan di level pusat nanti.

Afni menyebutkan, setiap tahunnya ada sepuluh nama yang diajukan oleh beberapa daerah agar diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Prosesnya ternyata tak mudah.

Usulan daerah

Tiap-tiap pengusul di daerah harus bisa menyampaikan peran setiap kandidat semasa hidupnya dan imbas apa saja yang dirasakan Bangsa Indonesia melalui perjuangan masing-masing tokoh.

Meski Rohana Kudus sudah dikenal luas di Tanah Minang, Afni meminta tim pengusul di daerah tidak lengah.

Apalagi, nama-nama lain yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional tahun 2018 ini rata-rata telah dikenal luas.

“Seperti Prof Dr Sardjito, siapa yang ngga tahu beliau?” terangnya usai mengisi Seminar Nasional Pengajuan Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional di Istana Gubernur Sumbar, Rabu (28/3/18), dilansir Republika.

Dia menerangkan kiprah Sardjito pada masa lalu mewariskan rumah sakit di Yogyakarta saat ini.

“Belum lagi jasa beliau lainnya. Nah, Rohana Kudus sebagai tokoh besar, harus ditampilkan pula karya beliau yang bisa dirasakan saat ini,” jelas Afni.

Meski begitu, Afni yakin nama Rohana Kudus masuk dalam jajaran kandidat kuat yang bisa dipilih Presiden Jokowi sebagai Pahlawan Nasional tahun ini.

Dari segi administrasi, Afni menyebutkan, Rohana Kudus sudah memenuhi syarat.

Apalagi perjalanan tim pengusul di Sumbar dalam membawa nama Rohana Kudus sudah dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu.

Rohana Kudus juga pernah menerima tanda jasa Bintang Jasa Utama Madya dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007. []

 

 


Artikel Terkait :

About matiar

Check Also

Obbie Mesakh, Raja Pop 80-an

Hampir semua artis yang ia orbitkan berhasil menjual lebih dari 400.000 keping CD.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *