Foto Pulse.ng

Saya Taubat Pinjem ke Bank (Keliling)

Oleh: Eva Fatmah Hasan

INSPIRADATA. Tiga hari lalu, sebuah pesan dari orang yang tidak saya kenal masuk ke nomor cadangan. Dari namanya, ia seorang wanita. Ia meminta untuk ketemu saya secepatnya. Saya langsung parno lah. Ko tiba-tiba ada yang minta ketemu. Mana saya gak kenal kan.

“Ada perlu apa ya, mba mau ketemu saya?”

Mendapat balasan saya seperti itu, ia malah minta maaf karena lancang menghubungi. Ia juga minta saya jangan marah kalau dia menyampaikan keperluannya.

“Mohon mba jangan marah ya, saya bener-bener butuh bantuan mba,” balasnya kemudian.

“Kalau marah sih ngga ya, mba. Tapi kalau soal bantuan, saya perlu tau dulu mba masalahnya apa?”

“Sebelum cerita ke saya, baiknya mba cerita dulu ke Allah mba. Karena saya mah apa atuh,” lanjut saya.

Ternyata si mba ini mengaku sudah curhat juga ke Allah. Sudah terus-terusan minta, dan saat ini dia bingung mesti gimana. Lalu, saya langsung aja minta dia cerita.

Selang beberapa jam, sms dari mba itu masuk. Dia sedang terlilit hutang Bank keliling untuk membayar persalinannya. Suaminya sudah meninggal. Kini ia hidup hanya dari hasil bantu-bantu tetangga.

Dia mengaku bersalah dan berdosa karena sudah memakai uang riba. Sebenarnya nominal yang ia pinjam tidak seberapa sih, hanya ratusan ribu. Tapi pelajaran yang saya ambil dari dia adalah “Jauhi deh pinjem-pinjem uang ke Bank (keliling)”

Besoknya, saya telefon mba itu biar jelas. Ternyata, dia tau nomor saya dari jamaah ahlu sunnah, katanya ketemu di masjid Ciputat sepulang dari lembaga DD untuk minta bantuan juga. Dan katanya, orang yang ngasih nomor saya ke dia, udah bantu dia juga.

“Mba, saya salah. Bener-bener salah. Waktu itu saya minjem ke Bank karena menyepelekan Al-Quran. Saya pikir ngga apa-apa. Tapi ternyata mba, saya bertaubat mba. Balasan Allah sangat nyata,” kata dia.

“Emang gimana mba?”

“Usai saya pinjem uang ke Bank, semua sumber rezeki saya ketutup mba. Anak saya juga biasanya suka ada yang ngasih, ini mah ngga, mba. Mba jangan marah sama saya, ya.”

“Tenang mba, saya bukan pemarah, ko.”

Berapapun jumlahnya, mau kecil apalagi besar, minjem ke Bank (keliling) itu sama aja, riba.

Ancaman riba sudah jelas. Baik dari hadits atau dari Quran. Yang lebih ngeri, pelaku riba itu sama saja mengajak perang ke Allah. Lihat Al-Baqarah 278-279.

Semoga kita terhindar dari riba. Dan cerita si mba tadi, saya berhusnudhon. Semoga Allah mengampuni dan membantunya.[]


Artikel Terkait :

About Tia Apriati Wahyuni

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *