Foto: BBC

Sebab Dicuri, Pendeteksi Tsunami Tak Jalan Sejak 2012

Peneliti geofisika kelautan Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Nugroho Dwi Hananto, mengatakan bahwa teknologi Buoy (pendeteksi tsunami) yang merupakan hibah dari negara Jerman ini sudah tidak berjalan sejak tahun 2012 karena ulah tangan-tangan nakal yang mencuri alat tersebut.

“Sebenarnya sejak tahun 2012 sudah nggak jalan karena Buoy itu banyak dicuri orang kemudian operasionalnya juga tinggi kan, jadi sudah engga jalan (tidak berfungsi),” kata Nugroho kepada SINDOnews melalui sambungan telpon, Rabu (26/12/2018).

BACA JUGA: BMKG Nyatakan Pendeteksi Tsunami Selat Sunda Hilang, Polri Bakal Investigasi

Menurutnya beberapa negara yang dekat dengan pantai dan berpotensi gempa dan tsunami sudah menerapkan teknologi tersebut, seperti Jepang, Amerika, dan Chili. Negara-negara tersebut telah sadar mengenai betapa pentingnya teknologi untuk mengetahui lebih awal jika ada bencana alam yang akan melanda.

Buoy untuk sinyal

Keberadaan Buoy dinilai cukup penting guna mengirimkan sinyal terkini ketika ada gelombang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi menjadi tsunami.

Dalam keterangannya, Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza menjelaskan bahwa Buoy akan terus menerus mengirimkan sinyal ke pusat monitoring secara real time. Dengan begitu buoy dapat mengetahui langsung secara aktual data di lapangan.

“Buoy terus menerus mengirimkan sinyal ke pusat monitoring secara real time jika ada gelombang yang melewatinya. Semakin tinggi dan kencang gelombang, maka sinyal yang dikirim frekuensi-nya akan semakin rapat dan bisa berkali-kali dalam hitungan detik,” rincinya.

BACA JUGA: Warga Palestina Shalat Ghaib untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Hal inilah yang dapat menjadi dasar untuk mewaspadai serta mendukung kesiapsiagaan bencana. Adanya langkah mitigasi imbuhnya, sangat penting bagi masyarakat atau penduduk yang bermukim di wilayah yang rentan terhadap terpaan bencana.

“Masyarakat di wilayah berpotensi bencana, khususnya tsunami harus memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini atau early warning system, baik untuk tsunami maupun bencana lainnya,” pungkasnya.[]

SUMBER: SINDONEWS


Artikel Terkait :

About Al Mutafa-il

Bangkit, bangun, bergerak dan kembali bersinar

Check Also

Entah Apa yang Merasuki Pria Ini, 2 Bulan Tinggal di Tong Setinggi 25 Meter

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh dirinya sendiri pada 1997. Ketika itu, dia tinggal di dalam tong selama 54 hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *