Berita Hoax (Ilustrasi)

Sebar Berita Hoax Termasuk Dosa Besar?

Menurut Sekjen Ikatan Alumni al-Azhar Indonesia (IAAI), Muchlis M Hanafi, di era media sosial, berdasarkan penelusuran Washington Post dan New York Times, penulis berita bohong saat ini menjadi profesi yang sangat menggiurkan.

“Jauh lebih menggiurkan dibanding jadi penulis atau wartawan betulan,” ujarnya seperti dikutip Republika.co.id di Jakarta, Selasa (3/1/2017).

Dari keterangan reporter Washington Post, kata Muchlis, seorang penulis berita hoax bisa memperoleh ‘gaji’ lebih dari 10 ribu dolar AS atau setara Rp135 juta per bulan.

Data ini didapat dari Paul Horner, seorang penulis berita palsu di Facebook. Bahkan Buzzfeed melaporkan, sekelompok remaja Macedonia melihat berita hoax sebagai peluang bisnis yang menjanjikan.

Menurut Muchlis, berita palsu atau hoax memang selalu mengundang penasaran, hal inilah yang akan datangkan trafik. Semakin besar trafik maka semakin besar pula penghasilan dari periklanan google.

Lalu bagaimanakah hukum berita hoax yang disebarkan dalam Islam? Menurut Muchlis yang juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta ini, menyebarluaskan berita bohong (hoax) merupakan dosa besar.

Penyebaran berita hoax akan menimbulkan gejolak dan fitnah yang merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

Selanjutnya dia menceritakan bahwa Rosulullah SAW pernah menjadi korban hoax. Ini ketika istri Rosul, Aisyah RA mendapat tuduhan berselingkuh.

Muchlis mengatakan, berita hoax itu sempat menjadi berita panas di Madinah seperti disebutkan dalam Alquran surah an-Nur ayat ke-11 dan 12.

Alquran menyebut berita hoax dengan kata ‘Fahisyah’ sebagaimana penegasan Alquran surah an-Nur ayat ke-19, yaitu sesuatu yang teramat keji.

“Bahkan, terbilang dosa besar terbesar,” tutur Muchlis yang pernah menyabet gelar doktor di bidang tafsir dari Universitas al-Azhar, Kairo Mesir ini.

Adapun hadits Rosulullah yang menjelaskan bahaya berita palsu atau hoax yakni, “Maukah kalian aku beritahu tentang sebesar-besar dosa besar? Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tua. Ketahuilah juga, termasuk perkataan/persaksian dusta/palsu,” (HR. Bukhari).

Bahkan dalam ayatNya, Allah SWT telah menggabungkan dua larangan sekaligus yaitu larangan menyembah berhala yang najis dan larangan berkata dusta sebagaimana dijelaskan dalam Alquran surah al-Hajj ayat ke-30.

“Penyebar hoax, awas! Murka Tuhan menanti Anda di dunia dan akhirat (QS an-Nur :19),” tulis Muchlis yang juga Ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini. []


Artikel Terkait :

About Fajar Zulfikar

Check Also

Ka’bah Selalu Dijaga, Mengapa di Akhir Zaman Bisa Dihancurkan?

Bagaimana mungkin Ka’bah bisa dihancurkan sedang Allah telah menjadikan Mekkah sebagai Tanah Suci yang aman?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *