sejarah al liwa dan ar rayah, Sejarah Al Liwa’ dan Ar Rayah
Unik, Informatif , Inspiratif

Sejarah Al Liwa’ dan Ar Rayah

0

Umat Islam sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sudah mempunyai bendera yang di sebut dengan liwa’. Liwa’ sering ditemui dalam beberapa riwayat hadis tentang peperangan. Jadi, istilah liwa’ sering dikaitkan dengan rayah (panji perang).

Perlu diketahui, liwa’ dan rayah mempunyai ciri yang berbeda. Dalam beberapa riwayat disebutkan, “Rayah yang dipakai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berwarna hitam, sedangkan liwa’ (benderanya) berwarna putih.” (HR Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah).

Sebagian besar ahli hadis meriwayatkan warna liwa’ dengan warna putih dan rayah dengan warna hitam. Secara ukuran, rayah lebih kecil dari liwa’. Mengenai ukuran panjang dan lebarnya, tidak ditemui riwayat yang menjelaskan secara rinci dari bendera maupun panji-panji Islam pada masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

BACA JUGA: Sejarah Kubah Masjid dan Arsitektur Peradaban Islam

Dalam sebuah hadis dikatakan, “Panji Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR Tirmidzi).

Rayah dan liwa’ sama-sama bertuliskan kalimat tauhid yakni Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah. Pada rayah (bendera hitam) ditulis dengan warna putih, sebaliknya pada liwa’ (bendera putih) ditulis dengan warna hitam.

Rayah dan liwa’ mempunyai fungsi yang berbeda. Rayah merupakan panji yang dipakai pemimpin atau panglima perang. Rayah menjadi penanda orang yang memakainya merupakan pimpinan dan pusat komando yang menggerakkan seluruh pasukan. Jadi, hanya para komandan yang memakai rayah.

Rayah diserahkan langsung oleh khalifah kepada panglima perang serta komandan-komandannya. Selanjutnya, rayah dibawa selama berperang di medan peperangan. Karena itulah, rayah disebut juga Ummu al-Harb (Induk Perang).

Mengenai hal ini, berdalil dari hadis dari Ibnu Abbas mengatakan, Rasulullah ketika menjadi panglima di Perang Khandak pernah bersabda, “Aku benar-benar akan memberikan panji (rayah) ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.” (HR Bukhari).

Rasulullah kemudian memberikan rayah tersebut kepada Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi ketua divisi pasukan Islam.

BACA JUGA: Empat Unsur dalam Islam

Sedangkan, fungsi liwa’ yaitu sebagai penanda posisi pemimpin pasukan. Pembawa bendera liwa’ akan terus mengikuti posisi pemimpin pasukan berada. Liwa’ dalam perperangan akan diikat dan digulung pada tombak. Riwayat mengenai liwa’, seperti yang diriwayatkan dari Jabir r.a yang mengatakan, “ Rasulullah membawa liwa’ ketika memasuki Kota Makkah saat Fathul Makkah (pembebasan Kota Makkah).” (HR Ibnu Majah).

Menurut K.H Ali Mustafa Ya’qub, tidak ada dalil kuat yang bisa mengklaim begitu saja bahwa liwa’ merupakan bendera umat Islam. Menurutnya, Islam bukan bendera, melainkan keyakinan. Keberadaan rayah dan liwa’ pada zaman Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam hanya sebagai tanda. []

SUMBER: REPUBLIKA


Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.